dua kuntum mawar dari bukit zamrud

dua kuntum mawar dari bukit zamrud

Sabtu, 29 Desember 2012

Peringatan Bagi yang Meremehkan Dalam Berutang dan Doa Hutang

idak patut bagi seorang muslim untuk meremehkan urusan utang atau mengecilkan perkaranya atau lalai dalam melunasinya. Banyak dalil-dalil dalam hadits yang menunjukan bahaya hal itu. Bahwa mayit tertahan oleh utangnya hingga dilunasi.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’ad bin al-Athwal radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Saudaraku wafat dan meninggalkan 300 dinar. Beliau meninggalkan pula anak kecil. Maka aku ingin menginfakkan hartanya kepada anak kecil tersebut. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepadaku, ‘Sungguh saudaramu tertahan oleh utangnya. Pergi dan lunasi utangnya.’” Beliau berkata, “Aku pergi dan melunasi utangnya. Kemudian aku datang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah melunasi utangnya kecuali seorang perempuan mengklaim memiliki piutang atasnya sebanyak 2 dinar, namun dia tidak punya bukti.’ Beliau bersabda, ‘Berilah dia karena dia seorang yang jujur.’” [Musnad Ahmad 4/136, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no 1550]
Beliau meriwayatkan pula dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
نَفْسُ المُؤمِنِ مُعَلَّقَةٌ مَا كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ
“Jiwa seorang muslim tergantung selama ada utangnya.” [Musnad Ahmad 2/440, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no 1811]
Oleh karena itu wajib atas muslim jika memiliki utang hendaknya bersegera melunasinya sebelum dia dijemput kematian, agar jiwanya tidak ditahan dengan sebab utangnya serta tergadai dengannya. Apabila seseorang tidak memiliki utang maka hendaklah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas afiat yang didapatkannya. Lalu menjauhkan diri dari berutang selama tidak ada kebutuhan yang mengharuskan atau kondisi darurat yang memaksa. Hendaknya seseorang menyelamatkan diri dari kerisauan utang, mengistirahatkan dirinya dari akibatnya dan mengamankan diri dari dampak negatifnya.
Dalam al-Musnad dari hadits Uqbah bin Amir, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Jangan kamu menakuti diri-diri kamu sesudah keamanannya.” Mereka berkata, “Apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Utang.” [Musnad Ahmad 4/146, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no 2420]
Yakni, jangan terburu-buru kepada utang, sehingga kamu menakuti diri kamu dari konsekuensi dan akibatnya. Kita mohon kepada Allah afiat, keselamatan dan petunjuk kepada semua kebaikan.

Apa yang Diucapkan Orang yang Memiliki Hutang

At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunannya, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang budak mukatab (budak yang membuat perjanjian dengan tuannya untuk menebus dirinya secara berangsur-angsur) datang kepadanya dan berkata, “Sungguh aku sudah tidak mampu menunaikan tebusan diriku, maka bantulah aku.” Beliau berkata, “Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat-kalimat yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam kepadaku, sekiranya engkau memiliki utang seperti gunung Tsabir, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melunasinya untukmu.” Beliau melanjutkan,
قُل: اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَ أَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Katakan, Allahummak finii bihalaalika ‘an haraamika wa aghninii bifadhlika ‘amman siwaak (Ya Allah, cukupilah aku dengan yang halal-Mu daripada yang haram-Mu, dan jadikanlah aku tidak butuh dengan sebab karunia-Mu dari siapa pun selain-Mu).” [Sunan at-Tirmidzi no 3563, dan dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no 1820]
Ini adalah doa agung yang diucapkan orang yang memiliki utang dan dia tidak mampu melunasinya. Apabila dia mengucapkannya dan memberi perhatian atasnya, niscaya Allah akan melunasi utangnya bagaimana pun besar jumlah utang itu. Meski ia sebesar gunung, seperti disebutkan dalam hadits. Hal itu karena kemudahan di tangan Allah dan khazanah-Nya senantiasa penuh tidak pernah berkurang akibat nafkah. Barangsiapa bernaung kepada-Nya,  niscaya Dia akan mencukupinya. Barangsiapa mohon pertolongan kepada-Nya, niscaya Dia beri pertolongan dan petunjuk.
Budak mukatab tersebut datang kepada Ali radhiyallahu ‘anhu mengeluhkan kelemahannya dan ketidakmampuannya menunaikan bebannya berupa harta untuk majikannya agar dirinya dimerdekakan, maka beliau radhiyallahu ‘anhu menunjukinya doa yang agung ini yang beliau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, lalu beliau menjelaskan pula keagungan faidah dan besarnya hasil bagi orang yang mengucapkannya. Yaitu Allah akan melunasi utangnya bagaimana pun banyaknya. Beliau berkata, “Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat-kalimat yang diajarkan kepadaku oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, sekiranya engkau memiliki utang seperti gunung Tsabir, niscaya Allah akan melunasinya untukmu.” Pernyataan ini mengandung iming-iming besar dan motivasi bagi pendengar, serta anjuran untuk terus-menerus mengamalkan doa yang mengandung berkah tersebut, agar si hamba terbebas dari utang yang dipikulnya dan terbebas dari kegelisahan yang telah mengeruhkan perasaannya dan menyibukkannya.
Lafazh ‘Ya Allah, cukupilah aku dengan yang halal-Mu daripada yang haram-Mu’ dikatakan, ‘Dia dicukupi sesuatu dengan secukupnya’ yakni, merasa cukup dengannya tanpa butuh kepada selainnya. Dia meminta kepada Allah untuk menjadikannya merasa cukup dengan yang halal dan tidak butuh lagi kepada yang haram.
Lafazh ‘Dan jadikanlah aku tidak butuh dengan sebab karunia-Mu dari siapa pun selain diri-Mu’ yakni, jadikanlah karunia-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku serta nikmat dan kebaikan yang Engkau anugerahkan kepadaku, menjadikanku merasa tidak butuh lagi kepada selain-Mu. Aku tidak lagi berhajat pada selain-Mu dan aku tidak bernaung kepada sesuatu selain Engkau.
Di sini terdapat keterangan bahwa seorang hamba hendaknya menyerahkan urusannya kepada Allah, berpegang kepada-Nya semata, mohon pertolongan-Nya, bertawakal dalam seluruh urusannya kepada-Nya dan cukuplah Dia sebagai wakil.
Menjadi keharusan disamping doa hendaknya melakukan sebab-sebab, upaya sungguh-sungguh untuk melunasi utang, tekad yang jujur untuk menunaikannya, serta bersegera kepada hal itu secepatnya ketika kondisi memungkinkan melunasinya. Lalu bersungguh-sungguh mewaspadai sikap mengulur-ulur dan menunda-nunda. Sebab orang seperti itu sangat patut untuk tidak diberi pertolongan. Adapun orang yang hatinya senantiasa risau oleh utang dan dia memiliki niat jujur untuk melunasinya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melunasi utang itu untuknya.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Barangsiapa mengambil harta benda manusia dan dia ingin melunasinya, maka Allah akan melunasi untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya dan dia ingin membinasakannya, maka Allah juga akan membinasakan dirinya.’” [Shahih Bukhari no 2387]
Imam Ahmad meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Tidak seorang hamba pun memiliki niat untuk melunasi utangnya melainkan untuknya pertolongan dari Allah.’” [Al-Musnad 6/72, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no 1801]
Kemudian an-Nasa’i meriwayatkan dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dia bersabda, “Tidak seorang pun yang memiliki suatu utang lalu Allah mengetahui darinya bahwa dia ingin melunasi utangnya, melainkan Allah akan melunasi untuknya di dunia.” [Sunan an-Nasa’i 7/135, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no 5677]
Apabila hamba jujur dalam tekadnya dan niatnya benar, niscaya akan mudah urusannya. Allah mendatangkan padanya kemudahan dan kelapangan dari arah tak terduga. Barangsiapa benar tawakalnya kepada Allah, maka Allah akan menjamin dengan pertolongan-Nya dan meluruskan urusannya serta melunasi utangnya.

Kaidah Fiqih

Sebagaimana telah dimaklumi, masalah fiqih terus berkembang sejalan dengan berjalannya waktu dan timbul berbagai permasalahan baru yang dialami umat. Para ulama telah berjuang dan bekerja keras dengan memperhatikan berbagai dalil-dalil wahyu dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga bisa merumuskan berbagai kaidah untuk bisa digunakan sepanjang masa, sampaipun terhadap masalah-masalah yang belum pernah ada wujudnya pada zaman turunnya wahyu. Dari sini diketahuilah betapa pentingnya ilmu qowa’id fiqhiyyah ini. Imam al-Qorrofi berkata, “Barang siapa yang menguasai fiqih lewat penguasaan kaidah-kaidahnya, maka dia tidak butuh untuk menghafal semua permasalahannya satu persatu karena sudah tercakup dalam keumuman kaidah tersebut.” [*]
Pada kesempatan ini akan dibahas sebuah kaidah fiqih yang cukup penting untuk dipahami dimana kaidah ini berhubungan dengan sempurnanya hukum akidah dan amal perbuatan. Kaidah ini berbunyi:
الأَحْكَامُ العِلْمِيَّهُ وَ الْعَمَلِيَّهُ لاَ تَتِمُّ إِلاَّ بِأَمْرَيْنِ وُجُودُ شُرُوطِهَا وَ أَرْكَانِهَا وَ انْتِفَاءُ مَوَانِعِهَا
“Semua hukum ilmu dan amal tidak sempurna kecuali dengan dua perkara: terpenuhi syarat dan rukunnya, serta tidak ada penghalangnya.”

Penjelasan

العِلْمِيَّهُ (al-
ilmiah) adalah hukum yang tidak berhubungan dengan amal perbuatan, yang biasa disebut oleh para ulama dengan hukum yang berhubungan dengan akidah.
الْعَمَلِيَّهُ (al-amaliah) adalah hukum yang berhubungan dengan amal perbuatan, baik perbuatan lisan maupun anggota badan lainnya, juga baik yang berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala saja misalnya shalat, puasa dan lainnya, maupun yang berhubungan dengan sesama, misalnya hukum jual beli, sewa menyewa, pernikahan perceraian, jihad dan lainnya.
شُرُوطُهَا (syarat) dalam istilah para ulama adalah sesuatu yang harus ada untuk sahnya sesuatu yang lain dan dia bukan merupakan hakikat dari sesuatu tersebut.
Contoh: bersuci adalah syarat shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak menerima shalat seseorang tanpa bersuci.” (HR. Muslim)
Maka seseorang yang mengerjakan shalat harus dalam keadaaan bersuci, karena kalau tidak maka shalatnya tidak sah, dan bersuci itu sendiri bukan merupakan hakikat shalat, karena hakikat shalat adalah ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
أَرْكَانهَا (rukun) adalah sesuatu yang harus ada untuk sahnya sesuatu yang lain dan dia merupakan salah satu hakikat dari sesuatu tersebut.
Contoh: sujud adalah rukun shalat, maka seseorang yang shalat harus mengerjakan sujud, kalau tidak sujud maka shalatnya tidak sah, sedangkan sujud itu sendiri merupakan bagian dari hakikat shalat karena dia adalah salah satu perbuatan antara takbir dan salam.
مَوَانِعِهَا (penghalang) adalah sesuatu yang apabila terdapat pada sesuatu maka bisa mencegah atau menghalangi sahnya sesuatu tersebut.
Contoh: haid adalah penghalang wanita dari mengerjakan puasa, maka kalau seseorang sedang puasa lalu keluar darah haid maka puasanya tidak sah karena adanya penghalang tersebut.
Jadi makna kaidah ini adalah semua hukum baik yang berhubungan dengan masalah ilmiah maupun amaliah tidak sah dan tidak sempurna kecuali apabila terpenuhi semua syarat dan rukunnya serta tidak terdapat penghalangnya, yang ini berarti kalau salah satu syarat dan rukun dari hukum tersebut tidak terpenuhi atau terdapat salah satu penghalangnya, maka sesuatu tersebut dihukumi tidak sah dan tidak sempurna.

Kedudukan Kaidah Ini

Ini adalah sebuah kaidah yang sangat besar dan banyak manfaatnya. Dengannya akan terjawab banyak permasalahan yang dirumitkan oleh sebagian kalangan.
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Ini adalah sebuah kaidah besar yang mencakup semua hukum baik masalah ilmiah maupun amaliah.” (al-Qawa’id wa Ushul Jami’ah hal 33)

Contoh Penerapan Kaidah dalam Masalah Ilmiah

Contoh Pertama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan la ilaaha illallah maka dia akan masuk surga.” (ash-Shahihah 1135)
Banyak orang yang memahami bahwa hadits ini menunjukan bahwa semua orang yang pernah mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia akan masuk surga. Benarkah demikian secara mutlak?
Jawabnya: tidak mesti, karena yang disampaikan oleh Rasulullah dalam hadits ini adalah sebuah hukum yang tidak akan terpenuhi dan sempurna kecuali dengan sempurnanya syarat dan rukunnya serta tidak ada penghalang.
Sedangkan rukun la ilaaha illallah adalah menafikan dan menetapkan yaitu menafikan semua sesembahan dan hanya menetapkannya kepada Allah saja.
Sedangkan syaratnya ada tujuh macam yang tergabung dalam bait berikut ini:
علم يقين اخلاص وصدقك مع
محبة وانقياد والقبول لها
وزيد ثامنها الكفران منك بِمَا
سِوَى الإله من الأوثان قد ألها
Ilmu, yakin, ikhlas dan jujur
cinta, tunduk dan menerima
yang ke delapan ditambah kufur dengan
semua sesembahan selain Allah
Maka orang yang mengucapkan la ilaaha illallah namun masih menyembah juga kepada yang lainnya, maka tauhidnya tidak sah. Begitu juga bagi yang tidak memenuhi salah satu syaratnya seperti dia tidak meyakini atau tidak menerima dengan sepenuh hati atau syarat lainnya, maka tauhidnya juga tidak sah dan sempurna.

Faedah Puasa Syawal

Alhamdulillah, kita saat ini telah berada di bulan Syawal. Kita juga sudah mengetahui ada amalan utama di bulan ini yaitu puasa enam hari di bulan Syawal. Apa saja faedah melaksanakan puasa tersebut? Itulah yang akan kami hadirkan ke tengah-tengah pembaca pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat.

Faedah pertama: Puasa Syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”[1]
Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan).[2] Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal][3].”[4]
Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan semisal dan inilah balasan kebaikan yang paling minimal.[5] Inilah nikmat yang luar biasa yang Allah berikan pada umat Islam.
Cara melaksanakan puasa Syawal adalah:
  1. Puasanya dilakukan selama enam hari.
  2. Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.
  3. Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.
  4. Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh. Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah.

Faedah kedua: Puasa Syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib.

Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah.[6]

Faedah ketiga: Melakukan puasa Syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan.

Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.[7] Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf,
مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”[8]
Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”[9]
Renungkanlah! Bagaimana lagi jika seseorang hanya rajin shalat di bulan Ramadhan (rajin shalat musiman), namun setelah Ramadhan shalat lima waktu begitu dilalaikan? Pantaskah amalan orang tersebut di bulan Ramadhan diterima?!
Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa Saudi Arabia) mengatakan, “Adapun orang yang melakukan puasa Ramadhan dan mengerjakan shalat hanya di bulan Ramadhan saja, maka orang seperti ini berarti telah melecehkan agama Allah. (Sebagian salaf mengatakan), “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.” Oleh karena itu, tidak sah puasa seseorang yang tidak melaksanakan shalat di luar bulan Ramadhan. Bahkan orang seperti ini (yang meninggalkan shalat) dinilai kafir dan telah melakukan kufur akbar, walaupun orang ini tidak menentang kewajiban shalat. Orang seperti ini tetap dianggap kafir menurut pendapat ulama yang paling kuat.”[10] Hanya Allah yang memberi taufik.

Faedah keempat: Melaksanakan puasa Syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah.

Nikmat apakah yang disyukuri? Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadr di akhir-akhir bulan Ramadhan?!
Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.”[11] Sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh istri tercinta beliau yaitu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,
أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?”[12]
Begitu pula di antara bentuk syukur karena banyaknya ampunan di bulan Ramadhan, di penghujung Ramadhan (di hari Idul fithri), kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dengan mengangungkan Allah melalu bacaan takbir “Allahu Akbar”. Ini juga di antara bentuk syukur sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)
Begitu pula para salaf seringkali melakukan puasa di siang hari setelah di waktu malam mereka diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakan shalat tahajud.
Ingatlah bahwa rasa syukur haruslah diwujudkan setiap saat dan bukan hanya sekali saja ketika mendapatkan nikmat. Namun setelah mendapatkan satu nikmat, kita butuh pada bentuk syukur yang selanjutnya. Ada ba’it sya’ir yang cukup bagus: “Jika syukurku pada nikmat Allah adalah suatu nikmat, maka untuk nikmat tersebut diharuskan untuk bersyukur dengan nikmat yang semisalnya”.
Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Setiap nikmat Allah berupa nikmat agama maupun nikmat dunia pada seorang hamba, semua itu patutlah disyukuri. Kemudian taufik untuk bersyukur tersebut juga adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan bentuk syukur yang kedua. Kemudian taufik dari bentuk syukur yang kedua adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan syukur lainnya. Jadi, rasa syukur akan ada terus sehingga seorang hamba merasa tidak mampu untuk mensyukuri setiap nikmat. Ingatlah, syukur yang sebenarnya adalah apabila seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu untuk bersyukur (secara sempurna).”[13]

Faedah kelima: Melaksanakan puasa Syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinyu dan bukan musiman saja. [14]

Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan.
Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadhan karena mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya. Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari ‘ied, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci.
Ada sebagian orang yang hanya rajin ibadah dan shalat malam di bulan Ramadhan saja, lantas dikatakan kepada mereka,
بئس القوم لا يعرفون لله حقا إلا في شهر رمضان إن الصالح الذي يتعبد و يجتهد السنة كلها
“Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun.” Ibadah bukan hanya di bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja.
Asy Syibliy pernah ditanya, “Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, “Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan, “Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinyu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja. Semoga Allah memberi taufik.
‘Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ‘Aisyah mengenai amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ‘Aisyah menjawab,
لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً
“Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinyu (ajeg).”[15]
Amalan seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal menjemput. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematian.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99).[16]
Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa “al-yaqin” adalah kematian. Dinamakan demikian karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi. Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ahli tafsir lainnya mengatakan, makna ayat tersebut adalah perintah untuk beribadah kepada Allah selamanya, sepanjang hidup.[17]
Sebagai penutup, perhatikanlah perkataan Ibnu Rajab berikut, “Barangsiapa melakukan dan menyelesaikan suatu ketaaatan, maka di antara tanda diterimanya amalan tersebut adalah dimudahkan untuk melakukan amalan ketaatan lainnya. Dan di antara tanda tertolaknya suatu amalan adalah melakukan kemaksiatan setelah melakukan amalan ketaatan. Jika seseorang melakukan ketaatan setelah sebelumnya melakukan kejelekan, maka kebaikan ini akan menghapuskan kejelekan tersebut. Yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah melakukan ketaatan sebelumnya. Sedangkan yang paling jelek adalah melakukan kejelekan setelah sebelumnya melakukan amalan ketaatan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat lebih jelek dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat. … Mintalah pada Allah agar diteguhkan dalam ketaatan hingga kematian menjemput. Dan mintalah perlindungan pada Allah dari hati yang terombang-ambing.”[18]
Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk istiqomah dalam ketaatan hingga maut menjemput. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan dan memudahkan kita untuk menyempurnakannya dengan melakukan puasa Syawal.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Diselesaikan di Batu Merah, kota Ambon, 4 Syawal 1430 H

Kandungan dan Tafsir Ayat Kursi

Ayat Kursi yang mulia dan penuh berkah ini terdiri atas sepuluh penggal kalimat. Di dalamnya terkandung tauhidullah, pengagungan terhadap-Nya serta penjelasan akan keesaan-Nya dalam kesempurnaan dan kebesaran, sehingga akan melahirkan penjagaan dan kecukupan bagi yang membacanya. Di dalam ayat ini terdapat lima Asma’ul Husna, juga terdapat lebih dari dua puluh sifat Allah, didahului dengan menyebutkan kemahaesaan Allah dalam peribadatan dan bathilnya beribadah kepada selain-Nya, kemudian disebutkan tentang kemahahidupan Allah yang sempurna yang tidak diiringi dengan kesirnaan.
Disebutkan pula di dalamnya bahwa Allah adalah al-Qayyuum, yaitu Dia berdiri sendiri, tidak membutuhkan makhluk-Nya dan senantiasa mengatur seluruh urusan makhluk-Nya.  Selain itu, juga tentang kemahasucian Allah dari segala sifat yang kurang, seperti mengantuk dan tidur, mengenai luasnya kerajaan-Nya. Bahwasanya semua yang ada di langit dan bumi adalah hamba-Nya, berada di bawah kekuasaan dan aturan-Nya. Dia juga menyebutkan bahwa di antara bukti-bukti keagungan-Nya ialah tidak mungkin bagi seorang pun dari makhluk-Nya untuk memberi syafaat di sisi-Nya kecuali setelah mendapat izin dari-Nya.
Di dalamnya terdapat penetapan

sifat ilmu bagi Allah, ilmu-Nya meliputi segala yang diketahui, Dia mengetahui yang telah terjadi, yang akan terjadi dan apa yang belum terjadi, begitu pula jika sesuatu itu terjadi akan seperti apa bentuk dan rupanya. Di dalamnya juga disebutkan tentang kemahabesaran Allah dengan menyebutkan kebesaran makhluk-Nya. Jika Kursi yang merupakan salah satu dari makhluk-Nya meliputi langit dan bumi, maka bagaimana dengan Sang Pencipta yang Mahaagung dan Rabb Yang Mahabesar?
Di dalamnya juga terdapat penjelasan tentang kesempurnaan kekuasaan-Nya. Di antara bentuk kesempurnaan kekuasaan-Nya adalah tidak memberatkan-Nya penjagaan terhadap langit dan bumi. Kemudian ayat ini ditutup dengan menyebutkan dua nama Allah yang agung, yaitu al-‘Aly dan al-‘Azhiim. Di dalamnya mengandung penetapan akan kemahatinggian Allah, baik Dzat dan kekuasaan-Nya, juga penetapan kemahabesaran-Nya, dengan mengimani bahwa Dia memiliki segala makna kebesaran dan keagungan, tidak ada seorang pun yang berhak atas pengagungan dan pemuliaan selain Dia.
Inilah kandungan global dari Ayat Kursi. Ayat yang agung ini mengandung makna-makna agung dan  bukti-bukti mendalam serta rambu-rambu keimanan yang menunjukkan kebesaran dan keagungan-Nya.
Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya berkata, “Ayat yang mulia ini adalah ayat al-Qur’an yang paling agung dan yang paling utama.  Hal ini dikarenakan kandungannya yang memuat perkara-perkara yang agung dan sifat-sifat yang mulia. Oleh karena itu, banyak hadits yang menganjurkan untuk membacanya dan menjadikannya sebagai wirid harian bagi manusia pada waktu-waktu yang dijalaninya, baik pagi maupun petang, juga ketika menjelang tidur dan setelah menunaikan shalat lima waktu.
Allah memberitakan tentang diri-Nya yang mulia bahwa Dia ‘Laa ilaaha illa huwa’. Maksudnya tiada ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia. Dialah satu-satunya ilah yang berhak diibadahi, yang mengharuskan tertujunya seluruh bentuk peribadatan, ketaatan dan penyembahan hanya kepada-Nya. Ini karena kesempurnaan-Nya dan kesempurnaan sifat-Nya serta karena besarnya nikmat-Nya. Di samping itu, kewajiban makhluk adalah menjadi hamba-Nya, menerapkan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Seluruh sembahan selain Allah adalah bathil, beribadah kepada selain Dia pun bathil. Ini disebabkan segala sesuatu selain Allah adalah makhluk yang memiliki sifat-sifat yang kurang, diatur, dan membutuhkan yang lain dalam segala segi. Maka dari itu, makhluk tidak berhak sedikitpun untuk diibadahi. Adapun firman-Nya ‘Al-Hayyul Qayyuum’, dua nama mulia ini menunjukkan kepada seluruh asma’ul husna secara muthabaqah (adekusi), tadhammun (inklusi) dan luzum (konsekuensi). Sifat al-Hayyu Yang Mahahidup menunjukkan kepada Dzat yang memiliki sifat hidup yang sempurna, yang mencakup semua sifat-sifat Dzat seperti Maha Mendengar, maha Melihat, Maha Berilmu, Mahakuasa dan semisalnya.
Al-Qayyuum Yang Maha Berdiri sendiri, Dialah yang tegak dengan kesendirian-Nya dan Yang Menegakkan yang lain. Sifat ini mencakup seluruh perbuatan yang dikerjakan oleh Rabbul Alamin, seperti istiwaa (bersemayam), nuzul (turun ke langit bumi pada sepertiga malam terakhir*), kalam (Berfirman), mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, dan segala bentuk pengaturan. Semua itu tercakup dalam asma-Nya, al-Qayyuum. Oleh karena itu sebagian ulama berkata, “Dua nama ini adalah asma Allah yang paling agung . Jika dipanggil dengan menyebut asma ini, niscaya Dia akan menjawab dan jika meminta dengan menyebut nama-Nya ini, niscaya Dia akan memberi.”
Di antara bentuk kesempurnaan sifat hidup dan berdiri sendiri-Nya ini ialah Dia tidak tersentuh oleh kantuk dan tidur. Milik-Nyalah segala yang ada di langit dan di bumi. Dialah yang memiliki, sedangkan selain-Nya adalah yang dimiliki. Dialah Yang Maha Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Pengatur, sedangkan selain-Nya adalah diciptakan, diberi rizki dan diatur.
Mereka tidak memiliki sedikit pun, walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi), sesuatu yang berada di langit maupun di bumi, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.
Oleh karena itu, Allah berfirman, “Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?” Maksudnya tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafaat di sisi-Nya tanpa izin dari-Nya. Syafaat itu seluruhnya hanya milik Allah semata. Akan tetapi, jika Allah berkehendak untuk merahmati siapa pun yang dikehendaki-Nya, Dia akan mengizinkan kepada salah seorang yang dimuliakan-Nya untuk memberikan syafaat kepadanya. Seorang pemberi syafaat tidak akan berani memulai memberi syafaat tanpa izin dari-Nya.
Kemudian Allah berfirman, “Dia Maha Mengetahui apa yang berada di hadapan mereka,” yaitu segala sesuatu yang telah berlalu, “dan apa yang berada di belakang mereka,” yaitu apa yang akan terjadi. Ilmu Allah meliputi segala perkara secara rinci, yang permulaan dan yang paling akhir, yang tampak dan yang tersembunyi, yang ghaib maupun yang nyata. Adapun hamba, mereka tidak memiliki hak sedikitpun untuk mengurus hal ini dan tidak memiliki ilmu sedikitpun, kecuali apa yang telah Allah ajarkan kepada mereka.
Oleh karena itu Allah berfirman, “…dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi…” Ini menunjukkan kesempurnaan keagungan-Nya dan luasnya kekuasaan-Nya. Kursi-Nya saja sedemikian besar yaitu meliputi langit dan bumi, sementara keduanya ini sangat besar dan sangat banyak pula penghuni keduanya. Kursi bukanlah makhluk Allah yang terbesar, bahkan masih ada lagi yang lebih besar darinya, yaitu ‘Arsy dan juga yang lainnya yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Kebesaran makhluk-makhluk tersebut membuat akal pikiran menjadi bingung dan tiap-tiap pandangan menjadi tumpul, gunung-gunung bergerak, dan orang-orang pandai terangguk-angguk.
Bagaimana jika dihadapkan dengan penciptanya? Yang menyertakan pada penciptaannya hikmah dan rahasia yang dikehendaki-Nya. Yang menahan langit dan bumi agar tidak bergerak dengan tanpa merasa lelah dan letih. Oleh karena itu Dia berfirman, “…dan Dia tidak merasa berat dalam menjaga keduanya, dan Dia Mahatinggi…” dengan Dzat-Nya Dia bersemayam di atas ‘Arsy, yang Mahatinggi dengan kekuasaan-Nya terhadap seluruh makhluk, Yang Mahatinggi dengan kekuasaan-Nya karena kesempurnaan sifat-Nya. Mahabesar sehingga menjadi kecil dan remeh kedaulatan para diktator jika dihadapkan dengan kebesaran kekuasaan-Nya, kesombongan raja-raja yang congkak menjadi kecil di samping keagungan-Nya. Mahasuci Dzat yang memiliki kebesaran yang Agung nan tiada tara, Yang menundukkan dan menguasai segala sesuatu.” [Tafsir as-Sa’di hal. 110]

Manfaat dan Keutamaan Ayat Kursi

Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu bahwasanya ia memiliki lumbung kurma yang terus berkurang tanpa tahu apa penyebabnya. Pada suatu malam ia pun menjaganya, lalu ia mendapati seekor binatang melata yang menyerupai anak kecil yang baru beranjak dewasa. Ubay mengucapkan salam kepada anak tersebut dan anak itu menjawab salamnya. Ubay bertanya, “Siapa Anda? Jin atau manusia?” Anak itu menjawab, “Jin.” Ubay berkata, “Tunjukkan tanganmu!” Kemudian anak itu menunjukkan tangannya, ternyata tangannya serupa dengan tangan anjing dan bulunya pun seperti bulu anjing.
Ubay bertanya lagi, “Apakah ini wujud dari jin?” Jin itu menjawab, “Bangsa jin telah mengetahui bahwa tidak ada di antara mereka yang lebih kuat dariku.” Ubay bertanya, “Apa yang menyebabkanmu datang ke sini?” Jin itu menjawab, “Telah sampai berita kepadaku bahwa kamu suka bersedekah, maka kami datang untuk mencuri makananmu.” Ubay berkata, “Apa yang bisa menyelamatkan kami dari kalian?” Jin itu menjawab, “Ayat ini yang berada di dalam surat al-Baqarah: Allaahu laa ilaaha illa huwal Hayyul Qayyuum…” Barangsiapa membacanya pada sore hari, niscaya ia akan dilindungi dari kami sampai pagi dan barangsiapa yang membacanya di pagi hari, niscaya ia akan dilindungi dari kami sampai sore.”

Pagi harinya Ubay mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan peristiwa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makhluk buruk itu telah berkata benar.” [HR an-Nasai dan at-Thabrani. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiihut Targhiib]
Nash ini menunjukkan akan kuatnya pengaruh Ayat Kursi dalam menjaga hamba, mengusir syaithan dan menjauhkan mereka dari suatu tempat serta melindungi dari tipu daya dan kejahatan mereka. Jika anda membacanya pada peristiwa-peristiwa yang ditimbulkan oleh  syaithan, pasti anda bisa menolaknya, sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di beberapa tempat dalam kitab-kitabnya.
Beliau berkata dalam kitab al-Furqaan: “Jika anda dengan tulus membaca Ayat Kursi (pada peristiwa-peristiwa yang ditimbulkan oleh syaithan) dengan benar, niscaya hal itu akan sirna. Sesungguhnya tauhid dapat mengusir syaithan.” [Al-Furqaan baina Auliyaa’ir Rahmaan wa Auliyaa’isy Syaithaan hal. 146]
Ia juga berkata, “Jika seseorang membacanya dengan benar pada peristiwa-peristiwa yang ditimbulkan oleh syaithan, niscaya ia bisa membuatnya sirna.” [ibid hal. 140]
Dalam kitab Qaa’idah Jaliilah fit Tawassul wal Waasilah, beliau berkata, “Hendaklah ia membaca Ayat Kursi dengan tulus. Jika ia telah membacanya, niscaya hal itu akan sirna terbenam ke dalam bumi atau terhalangi.” [Qaa’idah jaliilah hal. 28]
Beliau berkata, “Orang-orang yang ikhlas dan beriman tidak dapat diganggu (dikuasai) oleh syaithan-syaithan. Oleh karena itu mereka akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surat al-Baqarah. Mereka juga lari dari Ayat Kursi, ayat terakhir dari Surat al-Baqarah dan ayat-ayat pilihan lainnya dari al-Qur’an. Di antara kalangan jin ada yang memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang kepada para dukun dan yang lainnya dari apa yang mereka dapat curi dengar. Dahulu terdapat banyak dukun di negeri Arab. Namun ketika tauhid tampak dominan, para syaithan pun lari dan sirnalah atau berkuranglah jumlah para dukun. Kemudian hal itu muncul di daerah-daerah yang tidak tampak pengaruh tauhid di dalamnya.” [An-Nubuwwat I/280]
Beliau juga berkata, “Peristiwa-peristiwa yang ditimbulkan oleh syaithan seperti ini akan sirna dan semakin melemah jika disebutkan nama Allah, tauhid kepada-Nya, dan dibacakan ayat-ayat pilihan dari al-Qur’an. Terutama Ayat Kursi, sesungguhnya bacaan itu dapat menghilangkan seluruh keanehan-keanehan yang ditimbulkan oleh syaithan.” [ibid I/283]
Anjuran untuk memperbanyak membacanya, sebagaimana yang terdapat dalam as-Sunnah, merupakan suatu bukti akan kebutuhan mendesak seorang muslim terhadap ayat ini, juga terhadap tauhid dan pengagungan kepada Allah yang terandung di dalamnya. Tidak akan ada kebatilan yang bisa tegak di hadapannya, bahkan ia akan menghancurkan tiang-tiangnya, menggoncangkan bangunannya, menceraiberaikan persatuannya, serta menghilangkan wujudnya dan seluruh dampaknya.
Nash yang lalu memberikan pengertian kepada kita mengenai disunnahkannya bagi seorang muslim membaca ayat ini delapan kali setiap hari dan malam; dua kali pada pagi dan sore hari, sekali ketika hendak tidur, dan lima kali setelah menunaikan shalat lima waktu. Ketika seorang muslim telah dimudahkan dalam mengulang-ulang ayat ini, diiringi dengan menghadirkan hati untuk memahami makna dan maksud yang terkandung di dalamnya, serta merenungi tujuan dan sasarannya, maka kadar tauhid yang terdapat di dalam hatinya akan semakin kuat dan ikatannya pun akan semakin kokoh. Niscaya dengan tauhid ini ia telah berpegang dengan tali yang kokoh, yang tidak akan putus sebagaimana dijelaskan dalam ayat setelah Ayat Kursi ini.
Yang diharapkan bukanlah hanya membaca tanpa merenungi maknanya, juga bukan mengulang saja tanpa mengkaji maksud dan tujuannya. Allah berfirman mengenai keumuman al-Qur’an, “Apakah mereka tidak mau merenungi (makna ayat-ayat) al-Qur’an?…” (QS. An-Nisaa: 82)
Maka bagaimana terhadap ayat yang paling agung dan paling utama, yaitu Ayat Kursi? Jika tidak ada perenungan terhadap maknanya, akan menjadi lemahlah pengaruhnya dan sedikit pula manfaatnya. Baru saja berlalu dari kita pernyataan Syaikhul Islam: “Jika ia membacanya dengan tulus…” secara berulang-ulang. Ini beliau ucapkan sebagai peringatan bahwa hanya membacanya saja tidak dengan sendirinya bisa meraih maksud yang diinginkan. Adalah sangat berbeda antara orang yang membacanya dengan hati yang lalai dengan orang yang membacanya sambil memikirkan kandungan maknanya yang agung dan maksudnya yang penuh berkah, yaitu berupa tauhid dan pengagungan terhadap Allah. Dengan demikian hatinya menjadi penuh dengan tauhid dan makmur dengan keimanan dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Membacanya berulang-ulang disertai perenungan terhadap maknanya mengandung manfaat yang besar dan penting yang banyak ditinggalkan oleh banyak orang. Ketahuilah, hal itu karena pentingnya mengingat tauhid dan mengingatkan kembali pilar-pilarnya, menghunjamkan akar-akarnya ke dalam hati dan melapangkan wilayah di dalamnya. Berbeda dengan orang yang meremehkan tauhid dan enggan mengkajinya. Ia beranggapan bahwa cukup dengan mempelajarinya dalam beberapa menit dan beberapa saat, sehingga tidak perlu mengingatnya terus menerus dan mengkajinya dengan kajian yang konsisten.

MATLAMAT TARBIYAH ISLAM


Di sini kita sedia memahami bahawa matlamat utama tarbiyah Islamiyah ialah melahirkan perhambaan manusia kepada Allah sepenuhnya. Oleh itu kita perlulah bermotivasi tinggi untuk mendidik dan dididik kerana kitalah sebenarnya mengajak manusia kepada Allah maka kita memerlukan ciri-ciri yang dikehendaki oleh-Nya. Janganlah kita gopoh atau lalai kerana dakwah Islamiyah memerlukan nafas yang panjang. Ia bukan bulan dicapai sehari dua, setahun atau beberapa tahun kemudiannya, tetapi memakan masa yang begitu lama sehinggalah hari kiamat.

Kita juga menyakini bahawa segala sumbangan dan kerja mengislah masyarakat akan di nilai oleh Allah Taala. Inilah bekalan kita untuk kehidupan di negeri akhirat nanti. Firman Allah bermaksud : 

"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya), dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari Akhirat). Dan (sekali lagi diingatkan): bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat meliputi pengetahuannya atas segala apa yang kamu kerjakan" (Surah Al Hasyr: 18)

Matlamat tarbiyah Islamiyah itu perlu dibahagikan kepada dua iatu matlamat yang merangkumi perkara umum dan matlamatnya yang khusus. Matlamat tarbiyah Islamiyah yang umum ialah untuk menyelamatkan insan daripada azab Allah 'azza wajalla sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Taala yang bermaksud,"Wahai orang-orang yang beriman. Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka, di mana bahan-hahan bakarannya itu ialah manusia dan batu (berhala)" (At Tahrim:6)

Manakala Insan yang diselamatkan dari azab Allah Taala itu ialah insan yang dapat menyempurnakan segala tanggungjawab ke arah mencapai tujuan dan matlamat ianya dijadikan oleh Allah Taala sebagaimana ia digariskan di bawah :

1]. Beribadat kepada Allah Taala Yang Maha Esa mengikut syariat yang diwujudkan oleh Allah Taala. Firman Allah Taala yang bermaksud,"...Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melaikan untuk mereka menyembah dan beribadat kepada-Ku". (Az Zaariyat:56). Hendaklah beribadat kepada Allah mengikut syariat yang diturunkan oleh-Nya melalui lisan Nabi Muhammad S.A.W yang menuntut supaya orang-orang Muslim itu memiliki beberapa sifat yang penting antaranya ialah al Iman, al Islam, al lhsan, keadilan, al amru bil ma'ruf'wan nahyu 'anil mungkar, al jihad fisabilillah, manis tutur kata, pekerti mulia dan beberapa peradaban serta amalan yang lain.

2]. Menjadi khalifah Allah di atas muka bumi ini. Allah taala telah menyatakan bahawa antara tujuan manusia diciptakan ialah untuk menjadikannya khalifah di bumi ini, firman Allah Taala yang bermaksud,"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi" (Al Baqarah:30). Ekoran dari penciptaan manusia oleh Allah, maka ia bertanggungjawab memakmurkan bumi ini dengan dengan segala perancangan dan pembangunan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah.

3]. Berkenal-kenalan dan berbaik-baik di kalangan manusia. Allah Taala berfirman sebagaimana maksudnya,"Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersUku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang Yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang mempunyai kelebihan dari aspek keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam Pengetahuannya (akan keadaan dan amalan kamu)" (Al Hujurat:13)

Allah telah menyatakan bahawa pada asalnya ia menciptakan manusia itu daripada lelaki dan perempuan (Adam dan Hawa). Kemudian Dia mengembang biakkan keturunan manusia sehingga menjadi berbagai-bagai bangsa, puak dan suku kaum. Tujuannya ialah supaya manusia itu berkenal-kenalan dan berbaik-baik di antara satu sama lain. Manakala insan yang paling mulia sekali di sisinya ialah yang paling bertakwa kepadanya. Dan sesungguhnya Dia amat mengetahui dan amat mengenal siapakah yang paling takut kepada-Nya. Oleh kerana itu, manusia hendaklah berkasih sayang sesama mereka, bantu membantu antara satu sama lain dan seterusnya ingat mengingati dan pesan memesan sesama mereka dalam perkara kebaikan.

4]. Memimpin dan memerintah dunia ini. Firman Allah Taala yang bermaksud,"Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal soleh dari kalangan kamu (Wahai umat Muhammad) bahawa Dia akan menjadikan mereka khalifah-khalifah yang memegang Kuasa pemerintahan dibumi" (An Nur:55).

Ayat ini menerangkan kepada kita bahawa Allah telah menjanjikan golongan beriman dan beramal soleh dari kalangan manusia akan dikurniakan kuasa pemerintahan di atas muka bumi ini. Pada waktu itu manusia dapat menjalankan urusan harian dan berbakti kepada Allah dalam suasana yang aman damai.

5]. Menjalankan syariat Allah Taala di bumi ini. Matlamat dan tujuan seterusnya manusia dijadikan Allah ialah untuk menjalankan syariat Allah di bumi ini. Ini merupakan matlamat yang sangal besar dan masyhur. Ia merupakan inti sari kepada segala matlamat yang lain.

Banyak ayat-ayat Al Quran Al Karim yang menerangkan kepada kita tentang perkara-perkara ini. Antaranya firman Allah Taala yang bermaksud,"Kesudahannya Kami jadikan Engkau (Wahai Muhammad dan utuskan engkau) menjalankan satu syariat (yang cukup lengkap) dari hukum-hukum ugama; maka turutiah syariat itu, dan janganlah engkau menurut hawa nafsu orang-orang Yang tidak mengetahui (perkara yang benar)" (Al Jaasiyah:18)

Di dalam surah Al Maidah ayat 49, Allah Taala berfirman yang bermaksud,"Dan hendaklah Engkau menjalankan hukum di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah dan janganlah engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka..." (Al-Ma'idah:49) - Akhbar Harakah

Menggapai Dunia Untuk Bekal Akherat

Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-, Abu Bakr, Umar dan Utsman adalah contoh beberapa wirausaha dan saudagar yang berhasil pada waktu itu. mereka adalah para pekerja keras dan jujur, dan mereka termasuk bangsawan yang kaya raya. akan tetapi apakah mereka hanya berhenti sampai disitu dengan menikmati kekayaannnya saja? tidak.

Mereka mencari dunia (harta) dan mendapatkannya, akan tetapi mereka menjadikannya sebagai bekal mereka di akherat. kekayaan Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- yang begitu banyak itu beliau gunakan untuk berdakwah menyebarkan Islam. Abu Bakr dengan kekayaan yang begitu melimpah tidak hanya dinikmati sendiri, akan tetapi di sumbangkan dijalan Allah, diantara kisah paling terkenalnya adalah ketika Abu Bakr membeli Bilal (ketika itu sebagai budak yang telah masuk Islam) dan kemudian memerdekannya.

Umar sering meninfaqkan setengah dari keseluruhan hartanya dijalan Allah, bagitu juga Utsman. mereka adalah beberapa contoh bangsawan yang tidak terlena dengan kekayaan yang mereka miliki. akan tetapi mereka menjadikannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sudah seharusnya bagi setiap pengusahan muslim atau seorang muslim yang sedang berusaha, janganlah mencaci dunia padahal diri kita membutuhkannya. akan tetapi raihlah dunia dan gunakan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.