dua kuntum mawar dari bukit zamrud
Kamis, 07 Februari 2013
Sabtu, 29 Desember 2012
Ujian Hakiki
Sebagian orang tatkala berada dihadapan orang lain maka ia mampu
dengan mudahnya meninggalkan kemaksiatan, bahkan ia mampu untuk
menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ia mampu melaksanakan itu semua
meskipun ia berada di tengah-tengah kondisi masyarakat yang tenggelam
dalam lautan kemaksiatan. Ini adalah suatu kemuliaan karena ia bisa
menghadapi ujian dengan baik sehingga terhindar dari kemaksiatan. Namun
ingat sesungguhnya bukan ini ujian yang sebenarnya.
Allah telah melarang para hambanya untuk bermaksiat kepadanya baik
secara terang-terangan atau tatkala ia bersendirian tatkala tidak ada
orang lain yang melihatnya. Seseorang yang mencegah dirinya dari
melakukan kemaksiatan dihadapan khalayak tentunya berbeda dengan orang
yang mencegah dirinya dari melakukan kemaksiatan tatkala ia
bersendirian.
Sesungguhnya ujian yang hakiki adalah ujian yang dihadapi seorang
hamba tatkala ia sedang bersendirian kemudian tersedia dihadapannya
sarana dan prasarana serta kemudahan baginya untuk melakukan
kemaksiatan, apakah ia mampu mencegah dirinya dari kemaksiatan
tersebut?? Inilah ujian yang hakiki, ujian yang sangat berat,
beruntunglah bagi mereka yang bisa selamat dari ujian ini.
Ketahuliah…, orang yang mampu menghindarkan dirinya dari kemaksiatan
tatkala dihadapan orang lain namun ia terjerumus dalam kemaksiatan
tatkala ia sedang bersendirian merupakan orang yang tercela.
Rasulullah salallah wa’alaihi wasallam pernah bersabda,
لألفين أقواما من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة
فيجعلها الله هباء منثورا فقالوا يا رسول الله صفهم لنا لكي لا نكون منهم
ونحن لا نعلم فقال أما إنهم من إخوانكم ولكنهم أقوام إذا خلوا بمحارم الله
انتهكوها
“Sungguh aku mengetahui sebuah kaum dari umatku yang datang pada hari
kiamat dengan membawa kebaikan yang banyak seperti[1] bukit Tihamah
kemudian Allah menjadikannya seperti debu yang beterbangan.” Maka mereka
-sahabat- bertanya, “Wahai Rasulullah, berikanlah ciri mereka kepada
kami agar kami tidak termasuk golongan mereka dalam keadaan tidak
sadar.” Maka beliau menjawab, “Adapun, mereka itu adalah saudara-saudara
kalian, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang apabila bersepi-sepi
dengan apa yang diharamkan Allah maka mereka pun menerjangnya.”
Allah telah menguji orang-orang yahudi dengan ikan. Allah berfirman,
}وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ
إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ
سَبْتِهِمْ شُرَّعاً وَيَوْمَ لا يَسْبِتُونَ لا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ
نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ| (لأعراف:163
“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di
dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu
datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka
terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan
itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka
disebabkan mereka berlaku fasik”. (QS. 7:163)
Lihatlah… Allah memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk melakukan
kemaksiatan. Namun mereka (orang-orang Yahudi) tersebut tidak sabar
dengan ujian Allah padahal mereka yakin bahwa Allah mengawasi
gerak-gerik mereka, oleh karena itu mereka tidak melanggar perintah
Allah secara langsung tetapi mereka melakukan hilah yang akhirnya Allah
merubah mereka menjadi kera-kera yang hina.
Allah pun telah menguji para sahabat Nabi. Allah berfirman,
}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ
مِنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ
مَنْ يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ
أَلِيمٌ| (المائدة:94)
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu
dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan
tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia
tidak dapat melihat-Nya. Barangsiapa yang melanggar batas sesudah itu,
maka baginya azab yang pedih” (Al-Maidah : 94)
Dari Muqotil bin Hayyan, bahwasanya ayat ini turun tatkala umroh
Hudaibiyah, tatkala itu muncul banyak sekali zebra, burung, dan
hewan-hewan buruan yang lain di tengah perjalanan para sahabat (yang
sedang dalam keadaan berihram umroh), mereka tidak pernah menjumpai yang
seperti ini sebelumnya, namun Allah melarang mereka untuk berburu
hewan-hewan tersebut.[2] Sampai-sampai saking terlalu jinaknya
hewan-hewan tersebut maka mereka bisa mengambil langsung hewan-hewan
buruan yang kecil dengan tangan-tangan mereka, adapun hewan-hewan buruan
yang besar maka mereka bisa dengan mudah menombaknya[3]
Dalam ayat ini | لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ } Allah menta’kid
(menekankan) dengan sumpah[4] untuk menunjukan bahwa apa yang sedang
mereka hadapi berupa jinaknya hewan-hewan buruan, tidaklah Allah
menjadikan hewan-hewan tersebut jinak kecuali karena untuk menguji
mereka.[5]
Adapun nakiroh pada kalimat | بِشَيْءٍ } menunjukan bahwa cobaan yang
Allah turunkan pada mereka bukanlah cobaan yang sangat mengerikan yang
menyebabkan terbunuhnya nyawa dan rusaknya harta benda, namun cobaan
yang Allah berikan kepada para sahabat pada ayat ini adalah semisal
cobaan yang Allah berikan kepada penduduk negeri Ailah (orang-orang
yahudi) berupa ikan-ikan yang banyak mengapung di permukaan laut namun
Allah melarang mereka untuk menangkapnya[6]. Dan faedah dari cobaan yang
tergolong “ringan” ini adalah untuk mengingatkan mereka bahwa
barangsiapa yang tidak bisa tegar menghadapi seperti cobaan ini maka
bagaimana ia bisa tegar jika menghadapi cobaan yang sangat berat. Oleh
karena itu huruf | مِنَ } dalam ayat ini | مِنَ الصَّيْدِ } ini jelas
adalah bayaniah dan bukan tab’idhiyah.[7]
Jika seorang hamba merasakan bahwa dirinya dimudahkan untuk melakukan
kemaksiatan, jalan-jalan menuju kemaksiatan terbuka lapang baginya maka
ketahuilah bahwa ia sedang diuji oleh Allah…ingatlah bahwa Allah yang
sedang mengujinya juga sedang mengawasinya, maka takutlah ia kepada
Allah. Inilah ujian yang hakiki, dan Allah akan memberikan ganjaran yang
besar baginya karena kekuatan imannya. Barangsiapa yang meninggalkan
kemaksiatan padahal sangat mudah baginya untuk melakukannya maka
ketahuilah bahwa itu adalah kabar gembira baginya karena hal itu
merupakan indikasi imannya yang kuat. Barangsiapa yang bermaksiat kepada
Allah dalam keadaan bersendirian maka ketahuliah bahwa imannya ternyata
lemah, dan hendaknya ia takut kepada adzab yang Allah janjikan kepada
orang-orang yang melanggar perintahNya.
Oleh karena itu di akhir ayat Allah berfirman | لِيَعْلَمَ اللَّهُ
مَنْ يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ }, inilah hikmah dari ujian yang Allah
berikan kepada para sahabat yang sebagian mereka bisa saja mengambil
hewan-hewan buruan tersebut dengan mudahnya baik secara terang-terangan
maupun secara sembunyi-sembunyi. Dengan ujian ini akan nampak siapakah
dari hamba-hamba Allah yang takut dan bertakwa kepada Allah baik secara
terang-terangan maupun tatkala bersendirian.
Hal ini sebagaimana firman Allah
}إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ| (الملك:12(
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya Yang tidak tampak
oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar”.
(QS. 67:12)[8]
Ujian yang diberikan oleh Allah agar terbedakan hamba Allah yang
karena keimanannya yang kuat maka takut kepada adzab Allah di akhirat
yang meyakini bahwasanya Allah senantiasa mengawasinya meskipun ia tidak
melihatNya, agar terbedakan dari hamba yang lemah imannya sehingga
berani melanggar perintah Allah…[9], sehingga Allah memberinya ganjaran
yang besar…adapun menampakan rasa takut kepada Allah dihadapan khalayak
maka bisa jadi ia melakukannya karena takut kepada Allah maka ia tidak
mendapatkan ganjaran…[10].
Kewajiban Mendahulukan Wahyu Atas Hawa Nafsu
Dari Abu Muhammad, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, dia berkata:
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tidak beriman salah
seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku
bawa.” (Hadits hasan shahih dan kami riwayatkan dari kitab al-Hujjah
dengan sanad yang shahih).
PENJELASAN:
‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash tergolong sahabat yang banyak
meriwayatkan hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, sebab ia
sebagai penulis wahyu, sehingga Abu Hurairah merasa ingin mengunggulinya
(ghibthah). Abu Hurairah berkata: “Saya tidak tahu orang yang
mengungguliku dalam periwayatan hadits Rasulullah, selain ‘Abdullah bin
‘Amr, sebab ia menulis sedangkan aku tidak menulis. (2)
Sabda beliau: احدكم لايؤمن (tidak beriman salah seorang di antara
kalian), artinya: iman secara sempurna. ه حتى يكون هوا (hingga hawa
nafsunya), artinya: arah dan tujuannya (sesuai/mengikuti syari’at Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Imam an-Nawawi berkata: “Hadits hasan shahih dan kami riwayatkan dari kitab al-Hujjah
dengan sanad yang shahih.” Ibnu Rajab mengomentari penilaian Imam
an-Nawawi akan riwayat ini, ia berkata: “Hadits ini tidak shahih (namun
dha’if).” Sebab itu saya anjurkan untuk membaca syarah lbnu Rajab dan
komentarnya tentang derajat hadits yang ada dalam kitab al-Arba’in ini.
Sebab beliau termasuk pakar hadits. Apabila ia mencacatkan hadits-hadits
yang disebutkan Imam an-Nawawi niscaya akan jelas bagi kita alasannya.
Akan tetapi makna hadits ini benar, tanpa harus melihat sanadnya,
sebab hawa nafsu manusia harus mengikuti risalah yang dibawakan oleh
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
BEBERAPA FAEDAH (PELAJARAN) DARI HADITS INI:
1. Peringatan bagi manusia untuk tidak mengedepankan akal atau adat
istiadat di atas risalah yang dibawakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, sebab ketidaksempurnaan iman ini dapat menafikan keimanan
darinya.
Apabila seseorang berkata: mengapa kalian mengartikannya dengan ‘tidak beriman secara sempurna?’
Jawaban: kami mengartikannya demikian sebab tidak mungkin hal ini
terjadi dalam setiap permasalahan. Bisa jadi hawa nafsunya mengikuti
banyak hal yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
namun dalam sebagian yang lain tidak mengikutinya, maka dari itu
diartikan ‘tidak beriman secara sempurna’. Dan kita katakan: apabila
hawa nafsunya menolak semua (perkara agama) yang datang dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia menjadi orang yang murtad
(kafir).
2. Wajib atas seseorang untuk mendahulukan mencari dalil, sebelum
memutuskan suatu hukum, bukan menghukumi dulu lantas mencari dalil.
Artinya: jika Anda ingin menetapkan suatu hukum dalam hal keyakinan atau
amalan yang zhahir, maka kewajiban Anda yang pertama adalah mencari
dalil, kemudian menetapkannya. Adapun sikap sebaliknya (Anda menetapkan
dulu lalu mencari dalil), itu berarti Anda menjadikan diri Anda sebagai matbu’ (yang harus diikuti) oleh para tabi’
(yang mengikuti). Dengan kata lain, jika demikian Anda telah menjadikan
akal sebagai sumber rujukan pokok, sedangkan al-Qur’an dan as-Sunnah
sebagai cabangnya.
Sebab itu Anda dapatkan sebagian ulama – semoga Allah merahmati dan
memaafkan mereka – yang mendewa-dewakan madzhab mereka. Madzhab itu
mereka jadikan dalil dan rujukan pokok bagi para pengikut madzhab
mereka, kemudian mereka berupaya memutar-mutarkan ‘tengkuk’ nash
(al-Qur-an dan as-Sunnah) agar sesuai dengan apa yang dinyatakan madzhab
mereka dengan cara yang tidak tepat. Ini termasuk musibah yang menimpa
sebagian ulama. Maka yang wajib atasmu adalah menjadikan hawa nafsu
mengikuti apa yang datang dari syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam.
3. Pembagian hawa nafsu kepada terpuji dan tercela. Pada dasarnya,
ketika hawa nafsu dikatakan secara umum, maka yang dimaksud adalah hawa
nafsu yang tercela, sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur-an dan
al-Hadits. Setiap yang Allah sebutkan dalam hal mengikuti hawa nafsu,
secara otomatis itu berarti jelek. Namun hadits ini menunjukkan bahwa
hawa nafsu dapat diarahkan agar mengikuti syari’at yang dibawa oleh Nabi
shalallahu ‘alaihi wa salam. Dengan kata lain, hawa nafsu itu terbagi
dua bagian: Pertama terpuji, yaitu manakala ia mengikuti apa yang
dibawakan Rasulullah. Kedua: tercela, yaitu yang menyelisihi hal di
atas. Namun ketika disebutkan secara mutlak, maka pengertiannya adalah
hawa nafsu yang tercela, sehingga dikatakan: “Hidayah lawannya adalah
hawa nafsu.”
4. Kewajiban menerapkan hukum syari’at Islam dalam segala hal,
berdasarkan sabda beliau: تبعاُ لما جئت به “mengikuti apa yang aku
bawa.” Sedangkan Rasulullah diturunkan dengan membawa segala hal yang
akan bermanfaat bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Allah
Ta’ala berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur-an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (QS. An-Nahl: 89)
Tidak ada satu pun di antara persoalan yang dibutuhkan manusia, baik
dalam hal akhirat atau dunia – alhamdulillah – seluruhnya telah
dijelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, entah penjelasannya
gamblang, setiap orang mengetahuinya, atau penjelasan bagi sesuatu yang
sulit, yang hanya diketahui oleh orang-orang yang kuat dalam hal
keilmuannya (ulama).
5. Iman itu bersifat bertambah dan berkurang, sebagaimana yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal-Jama’ah.
Wallaahu a’lam.
Larangan Mencaci Maki Angin
Terkadang kita suka mendengar seseorang yang kesal kemudian
keluar sumpah serapah tatkala merasakan angin yang kuat berhembus
membanting pintu atau jendela rumahnya. Mungkin tidak disadari bahwa
sesungguhnya itu adalah perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh
seorang muslim.
Mencaci maki angin telah dilarang oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa salam karena Allah-lah yang telah mengatur angin sesuai dengan
kehendakNya, baik itu akan membawa kebaikan maupun keburukan bagi
manusia. Bahkan Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam mengajari kita
untuk berdo’a tatkala angin berhembus. Di antara hadits yang melarang
mencaci maki angin adalah sebagai berikut:
Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda:
لا تسبواالريح فإذا رايتم ما نكرهون
فقولوا : اللهم انا نسالك من خير هذا الريح و خير ما امرث به, و نعوذبك من
شر هذا الريح, و شر ما فيها, وشر ما امرت به – اخرجه الترمذي
“Janganlah kalian mengutuk angin. Jika
kalian mendapati suatu hal yang kalian benci, maka katakanlah, “Ya
Allah, kami memohon perlindungan kepada-Mu akan kebaikan angin ini dan
kebaikan yang dibawanya, dan kami berlindung
kepada-Mu dan keburukan angin ini dan kejahatan yang dibawa olehnya,
serta kejahatan yang ada di dalamnya.“ (1)
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda:
لا تسبواالريح فإنها من روح الله
تعالى تاتي بالرحمة و العذاب . ولكن سلواالله من خيرها و تعوذوا بالله من
شرها – اخرجه احمد و ابن ماجه
“Janganlah kamu mengutuk angin karena angin itu berasal dari Allah
yang berhembus membawa rahmat dan azab. Namun mintalah kepada Allah akan
kebaikannya dan berlindunglah kepada-Nya dari keburukannya. “ (2)
Manfaat dan Faidah Dzikir
Dalam surat al-Ahzab ayat 41 Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.”
Di sini Allah memerintahkan kita untuk berdzikir sebanyak-banyaknya.
Orang yang banyak berdzikir berarti memiliki hati yang hidup. Dia selalu
sadar akan keadaannya sebagai seorang hamba yang fakir dan butuh kepada
Allah serta hatinya dipenuhi dengan pengagungan dan pujian terhadap
Allah. Perumpaan orang yang berdzikir dan yang tidak berdzikir adalah
seperti orang yang hidup dan orang yang mati.
Namun barangkali kita belum menyadari apa sajakah manfaat dzikir bagi
pelakunya? Ibnul Qayyim al-Jauziyyah telah menyebutkan banyak manfaat
dan faidah dzikir yang bisa menambah motivasi kepada kita untuk banyak
berdzikir. Faidah dzikir banyak sekali, bisa mencapai seratus lebih.
Sebagian di antaranya:
Pertama: Mengusir syetan, menundukkan dan mengenyahkannya.
Kedua: Membuat Allah ridha.
Ketiga: Menghilangkan kesedihan dan kemuraman hati.
Keempat: Mendatangkan kegembiraan dan kesenangan di dalam hati.
Kelima: Menguatkan hati dan badan.
Keenam: Membuat hati dan wajah berseri.
Ketujuh: Melapangkan rezki.
Kedelapan: Menimbulkan rasa percaya diri dan kharisma.
Kesembilan: Menumbuhkan rasa cinta yang merupakan ruh Islam, menjadi
inti agama, poros kebahagiaan dan keselamatan. Allah telah menjadikan
segala sesuatu ada sebabnya. Maka Dia menjadikan sebab cinta adalah
dzikir secara terus-menerus. Barangsiapa ingin mendapatkan cinta Allah,
maka hendaklah dia senantiasa berdzikir dan mengingat Allah. Belajar dan
mengingat merupakan pintu ilmu. Dzikir merupakan pintu cinta, dan jalan
untuk itu sangat besar dan lurus.
Kesepuluh: Menumbuhkan perasaan bahwa dirinya diawasi, sehingga
mendorongnya untuk selalu berbuat bajik. Dia beribadah kepada Allah
seakan-akan Allah melihat dirinya secara langsung. Tapi orang yang lalai
untuk berdzikir tidak akan sampai kepada kebajikan, sebagaimana orang
yang hanya duduk saja tidak akan sampai ke tempat tujuan.
Kesebelas: Membuahkan ketundukan, yaitu berupa diri kepasrahan kepada
Allah dan kembali kepada-Nya. Selagi dia lebih banyak kembali kepada
Allah dengan cara menyebut asma-Nya, maka dalam keadaan seperti apa pun
dia akan kembali kepada Allah dengan hatinya, sehingga Allah menjadi
tempat mengadu dan tempat kembali, kebahagiaan dan kesenangannya, tempat
bergantung tatkala mendapat bencana dan musibah.
Kedua belas: Membuahkan kedekatan kepada Allah. Seberapa jauh dia
melakukan dzikir kepada Allah, maka sejauh itu pula kedekatannya dengan
Allah, dan seberapa jauh dia lalai melakukan dzikir, maka sejauh itu
jarak yang memisahkannya dengan Allah.
Ketiga belas: Membukakan pintu yang lebar dan berbagai pintu
ma’rifat. Semakin banyak dia berdzikir, maka semakin lebar pintu yang
terpampang di hadapannya.
Keempat belas: Membuahkan keengganan kepada Allah dan
pengagungan-Nya, karena dia merasakan kebersamaan dengan Allah. Berbeda
dengan orang yang lalai. Tabir keengganan ini sangat tipis di dalam
hatinya.
Kelima belas: Membuatnya selalu diingat Allah, sebagaimana
firman-Nya, “Maka ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.
“(Al-Baqarah: 152).
Keenam belas: Membangkitkan kehidupan di dalam hati. Kami pernah
mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dzikir bagi hati sama
dengan air bagi ikan. Apa yang terjadi dengan ikan andaikan dia
dipisahkan dari air?”
Ketujuh belas: Dzikir merupakan santapan hati dan ruh. Jika hati dan
ruh kehilangan santapannya, maka sama dengan badan yang tidak
mendapatkan santapannya. Suatu kali kami menemui Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah yang sedang shalat subuh. Seusai shalat dia berdzikir kepada
Allah hingga hampir tengah hari. Pada saat itu dia menengok ke arahku
seraya berkata, “Inilah santapanku. Andaikan aku tidak mendapatkan
santapan ini, tentu kekuatanku akan hilang.”
Kedelapan belas: Membersihkan hati dari karatnya, seperti yang sudah
kami uraikan di bagian atas. Segala sesuatu ada karatnya. Karat hati
adalah lalai dan hawa nafsu. Sedang untuk membersihkan karat ini ialah
dengan taubat dan istighfar.
Kesembilan belas: Menyingkirkan kesalahan dan mengenyahkannya. Dzikir
merupakan kebaikan yang paling agung. Sementara kebaikan dapat
menyingkirkan keburukan.
Kedua puluh: Menyelamatkannya dari adzab Allah, sebagaimana yang
dikatakan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dan dia memarfu’kannya,
“Tidak ada amal yang dilakukan anak Adam yang lebih menyelamatkannya
dari adzab Allah selain dari dzikir kepada Allah.
Kedua puluh satu: Dzikir memberikan rasa aman dari penyesalan pada
hari kiamat. Karena majelis yang di dalamnya tidak ada dzikir kepada
Allah, maka akan menjadi penyesalan bagi pelakunya pada hari kiamat.
Kedua puluh dua: Dzikir merupakan ibadah yang paling mudah, namun
paling agung dan paling utama. Sebab gerakan lidah merupakan gerakan
anggota tubuh yang paling ringan dan paling mudah. Andaikan ada anggota
tubuh lain yang harus bergerak seperti gerakan lidah sehari semalam,
tentu ia akan kesulitan melaksanakannya dan bahkan tidak mungkin.
Kedua puluh tiga: Dzikir merupakan tanaman surga, sebagaimana yang
diriwayatkan at-Tirmidzy dari hadits Abdullah bin Mas’ud dia berkata,
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda yang artinya, “Pada
malam aku diisra’kan, aku bertemu Ibrahim al-Khalil ‘alaihi salam seraya
berkata kepadaku, “Hai Muhammad, sampaikanlah salamku kepada umatmu,
dan beritahukanlah kepada mereka bahwa surga itu bagus tanahnya, segar
airnya, dan bahwa surga itu merupakan kebun, sedangkan tanamannya adalah
subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar.”
Menurut at-Tirmidzy ini hadits hasan gharib. Dia juga meriwayatkan dari
Abu Zubair dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda, “
Barangsiapa mengucapkan ‘subhanallah wa bihamdihi’, maka ditanamkan
baginya pohon kurma di surga.” Menurut at-Tirmidzy ini hadits hasan
shahih.
Kedua puluh empat: Terus menerus dzikir kepada Allah membuatnya tidak
melalaikan Allah. Padahal lalai mengingat Allah merupakan sebab
penderitaan hamba di dunia dan di akhirat. Siapa yang melalaikan Allah
juga akan lalai terhadap dirinya sendiri dan kemaslahatannya.
Dzikir Pagi dan Petang
Ada banyak do’a dan dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa salam. Diantaranya adalah do’a dan dzikir yang berkaitan
dengan ibadah tertentu seperti setelah shalat dan saat ibadah haji dan
umrah, dzikir sehari-hari seperti setelah bangun tidur, saat hujan
turun, bangun tidur, masuk kamar mandi dan sebagainya, serta dzikir pagi
dan petang. Mungkin masih banyak kaum muslimin yang belum tahu dan
belum mengamalkan dzikir pagi dan petang, padahal begitu besar manfaat dan faidah berdzikir.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa waktu pagi yang dimaksud adalah antara
subuh hingga terbit matahari dan waktu petang adalah antara ashar
hingga tenggelamnya matahari. Dalam surat al-Ahzab ayat 41 -42 Allah
berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا - وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah
sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan
petang.”
Al-Jauhary berkata, “Ashil artinya waktu antara ashar dan maghrib. Bentuk jamaknya ushul, ashal, asha’il.”
Seorang penyair berkata, “Sungguh kau adalah rumah yang penghuninya dimuliakan, aku duduk di pojok-pojoknya antara ashar dan maghrib.”
Allah juga berfirman,
فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ
“Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar dan
mohonlah ampunan atas dosamu dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu di
waktu petang dan pagi.” (al-Mukmin: 55)
Al-ibkar artinya awal siang hari, sedangkan al-‘asyi artinya akhir siang hari. Allah juga berfirman,
فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan
bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum
terbenam(nya).” (Qaf: 39)
Ini merupakan penafsiran dari apa yang disebutkan dalam berbagai
hadits, bahwa siapa yang berkata begini dan begitu pada pagi dan petang
hari …, maksudnya adalah sebelum terbit matahari dan sebelum
tenggelamnya. Mulainya dari sesudah subuh dan sesudah ashar.
Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda, “Barang
siapa berkata pada pagi dan petang hari سُبْحَانَ اللهُ وَ بِحَمْدِهِ (subhanallahi wa bihamdihi)
seratus kali, maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat
sambil membawa sesuatu yang lebih baik dari apa yang dibawanya, kecuali
seseorang yang berkata seperti yang dikatakannya atau lebih dari itu.”
Di dalam as-Sunan disebutkan dari Abdullah bin Khubaib, dia berkata,
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepadanya,
“Katakanlah!” Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus
kukatakan?” Beliau menjawab, “Katakanlah Qul huwallahu ahad dan mu’awwidzatain
(surat al-Falaq dan an-Naas) ketika engkau memasuki waktu petang dan
pagi sebanyak tiga kali, niscaya sudah membuatmu cukup dalam segala
sesuatu.” (menurut at-Tirmidzy ini adalah hadits hasan shahih).
Dan masih banyak lagi contoh-contoh do’a dan dzikir yang diajarkan
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang dibaca saat pagi dan petang.
Bagi yang ingin mendengarkan dan menghafal dzikir-dzikir tersebut bisa
mendownload file mp3 berikut ini:
Anda juga bisa menyimak melalui Radio Rodja gelombang 756 AM atau melalui internet live streaming setiap ba’da subuh dan ashar. Dan bagi anda pengguna iPhone dan iPad bisa mendownload aplikasi dzikir iAzkar di App Store.
Pada Hal Apa Sajakah Suatu Amal Bisa Menjadi Bid’ah?
Istilah bid’ah sudah gencar disuarakan oleh para ulama sebagai
peringatan bagi kaum muslimin agar menjauhinya. Mengapa tidak? Karena
orang-orang yang melakukan perbuatan bid’ah tidak sadar dan tidak merasa
telah berbuat kesalahan. Mereka merasa sedang melakukan suatu amal
shalih dan berharap pahala darinya. Itulah salah satu bahaya terbesar
dari perbuatan bid’ah sebagaimana dikatakan seorang ulama tabi’in, Ali
bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa
dia mendengar Sufyan (ats-Tsauri) berkata, “Bid’ah itu lebih disukai
Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu
lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi
dalam Talbis Iblis). Ya, pelaku maksiat biasanya dia menyadari bahwa dia
telah berbuat dosa dan lebih besar harapannya dia suatu saat akan
bertaubat. Tapi pelaku bid’ah..?
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pun telah memperingatkan tentang perbuatan bid’ah ini dalam sebuah haditsnya,
عن أم المؤمنين أم عبدالله عائشة رضي الله عنها قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ” رواه البخاري ومسلم , وفي رواية لمسلم ” من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,
ia berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini
yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”)
Para ulama telah sepakat bahwa suatu amal ibadah tidak sah kecuali
bila berkumpul padanya dua syarat: Pertama, adanya ke ikhlasan. Kedua,
mengikuti contoh dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam
(mutaba’ah). Dan satu kaidah penting yang bisa kita pegang dalam masalah
ibadah ini adalah bahwasanya asal dari setiap ibadah adalah haram
sampai ada dalil yang memerintahkannya. Ini berbeda dengan muamalah yang
pada asalnya adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Dari
sini kita bisa memahami kesalahan sebagian orang yang berkata, “mana
dalilnya bahwa perbuatan ibadah saya ini terlarang?” Seharusnya orang
itulah yang justru harus mendatangkan dalil yang mendasari perbuatan
ibadahnya itu. Niat yang baik tidak akan menjadikan suatu amalan bid’ah
menjadi amal shalih karena telah melanggar syarat kedua sahnya ibadah,
yaitu mutaba’ah.
Jika ada seseorang berkata: “Apabila saya berbuat sesuatu yang baru,
asalnya dari syari’at, akan tetapi saya menjadikannya dengan sifat yang
khusus yang tidak ada dalam syari’at, apakah yang demikian juga berarti
akan tertolak?”
Maka jawabannya adalah akan tertolak. Berikut penjelasan dari Syaikh
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin tatkala menjelaskan hadits di atas.
Ketahuilah, bahwa mutaba’ah tidak akan terwujud apabila amalan
tersebut tidak sesuai dengan syari’at dalam enam hal, yakni: sebabnya,
jenisnya, ukurannya, teknisnya, waktunya, dan tempatnya. Apabila tidak
sesuai dengan syari’at dalam enam hal ini, maka amalan tersebut
dikatakan bathil dan tertolak, sebab ia melakukan suatu hal dalam agama
Allah yang tidak ada sandaran darinya.
Pertama: Amalan harus sesuai dengan syari’at dalam sebabnya. Hal ini
seperti seseorang melakukan ibadah dengan sebab yang tidak pernah Allah
sebutkan, misalkan dia shalat dua raka’at setiap kali memasuki rumahnya
dan menjadikan hal ini sebagai perbuatan sunnah. Seperti ini tertolak.
Walaupun perkara shalat pada dasarnya disyari’atkan, tetapi ketika ia
kaitkan dengan sebab yang tidak bersumber dari syari’at, maka hal ini
mengakibatkan ibadah tersebut tertolak. Contoh yang lain, apabila
seseorang membuat semacam perayaan dengan sebab kemenangan kaum Muslimin
pada perang Badar, maka hal ini pun tertolak, sebab ia mengaitkannya
kepada sebab yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Kedua: Amalan harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Apabila
seseorang beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah yang tidak pernah
disyari’atkan agama dalam hal jenisnya, maka hal itu tidak akan
diterima. Sebagai contoh, bila seseorang berkurban dengan kuda, maka hal
ini tertolak, sebab menyelisihi perintah syari’at dalam hal jenis,
dimana syari’at Islam memerintahkan berkurban harus dari jenis binatang
ternak tertentu yaitu unta, sapi dan kambing. Adapun seseorang yang
memotong kuda dengan niat menshadaqahkan dagingnya maka hal itu
diperbolehkan, sebab ia tidak dikatakan berkurban kepada Allah dengan
menyembelihnya, namun hanya menyembelihnya untuk dishadaqahkan
dagingnya.
Ketiga: Amalan harus sesuai dengan syari’at dalam hal ukurannya.
Apabila seseorang beribadah kepada Allah dengan ukuran yang lebih dari
ukuran yang telah ditentukan syari’at maka hal itu tidak akan diterima.
Sebagai contoh, bila seseorang berwudhu dengan membasuh setiap bagian
sebanyak empat kali, maka yang keempatnya tertolak, sebab hal itu
melebihi ketentuan syari’at. Bahkan disebutkan dalam sebuab hadits
bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berwudhu tiga kali-tiga
kali, lalu beliau bersabda:
من زاد على ذلك فقد اساء و تعدى و ظلم
“Barangsiapa yang melebihkannya, maka ia telah berbuat jelek melampaui batas dan berbuat kezhaliman.”
(HR Imam Ahmad dalam Musnad al-Mukatsirin no 6684, an-Nasa’i kitab
ath-Thaharah bab al-I’tidaa fil Wudhu no 140, dan Ibnu Majah kitab
at-Thaharah wa Sunaniha bab Ja’a fil Qasdi fil Wudhu’i wa Karahatut
Ta’addi Fiih no 422, Hadits hasan seperti disebutkan Shahihul Jami’ no
6989)
Keempat: Amalan harus sesuai dengan syari’at dalam hal teknisnya.
Apabila seseorang mengamalkan sesuatu dalam rangka beribadah kepada-Nya
tetapi menyelisihi syari’at dalam hal teknisnya, maka tidak akan
diterima, dan hal itu tertolak. Contoh, seseorang shalat, ia langsung
bersujud sebelum melakukan ruku, maka shalatnya tidak sah dan tertolak,
sebab tidak sesuai dengan teknis tuntunan syari’at. Demikian pula dalam
hal wudhu dengan cara berbalik seperti memulai dengan membasuh kaki
sebelum mengusap kepala setelah itu membasuh tangan lalu muka, apabila
berwudhu dengan teknis seperti ini maka tidak sah, sebab tidak mengikuti
perintah syari’at dalam hal teknis atau tata caranya.
Kelima: Amalan harus sesuai dengan syari’at dalam hal waktunya. Bila
seseorang shalat sebelum masuk waktunya, maka shalatnya tidak mungkin
diterima sebab ia menyelisihi waktu yang telah ditentukan syari’at. Juga
bila menyembelih kurban sebelum mengadakan shalat ‘Id, inipun tertolak,
sebab menyelisihi waktu yang telah ditentukan syari’at. Apabila
seseorang beri’tikaf pada selain waktunya, maka hal itu tidak sesuai
dengan pedomannya, namun hal ini diperbolehkan sebab Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa salam membolehkan ‘Umar bin al-Khaththab
radhiyallahu ‘anhu beritikaf di Masjidil Haram ketika beliau bernadzar.
Apabila seseorang mengakhirkan suatu ibadah yang telah ditentukan
waktunya oleh syari’at tanpa adanya alasan yang dibenarkan, seperti
shalat shubuh setelah terbit matahari tanpa udzur, maka (dengan sikap
seperti ini) shalatnya tertolak, sebab ia telah beramal dengan amalan
yang tidak bersumber dan Allah dan Rasul-Nya.
Keenam: Amalan harus sesuai dengan syari’at dalam ketentuan tempat.
Apabila seseorang beri’tikaf di sekolah atau di rumah, bukan di mesjid,
maka amalannya ini tidak sah, sebab tidak sesuai dengan tuntunan
syari’at dalam ketentuan tempatnya, di mana ibadah i‘tikaf harus
dilakukan di masjid.
Demikianlah enam hal tempat terjadinya perbuatan bid’ah, semoga bisa menambah pemahaman kita tentang bid’ah.
Do’a Bepergian, Do’a yang Mengesankan
Ada satu do’a yang begitu menyentuh, dalam maknanya dan saya anggap
begitu lengkap menghimpun segala kebaikan yang kita butuhkan dan segala
keburukan yang ingin kita hindari berkaitan dengan perjalanan jauh atau
safar yang kita lakukan. Do’a itu adalah do’a safar yang diajarkan oleh
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Saya baru tahu dan menghafalnya
tatkala berangkat haji 2 tahun lalu. Do’a tersebut adalah sebagai
berikut:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ. وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ وَزَادَ فِيْهِنَّ: آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ
“Allah Maha Besar (3x).
Maha Suci Rabb yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang
sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada
Rabb kami (di hari Kiamat). Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kebaikan
dan taqwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai.
Ya Allah! Permudahlah perjalanan kami ini dan dekatkan jaraknya bagi
kami. Ya Allah! Engkau-lah teman dalam bepergian dan yang mengurusi
keluarga(ku). Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan
yang buruk dalam harta dan keluarga.”
Apabila kembali, doa di atas dibaca dan ditambah: “Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Rabb kami.” (HR. Muslim 2/998)
Pernah suatu ketika saya mendengar berita musibah kebakaran di sebuah
pemukiman padat di Jakarta saat orang-orang mudik merayakan Idul Fithri
di kampung halamannya. Terbayang bagaimana reaksi mereka saat pulang
menyaksikan rumahnya habis terbakar. Saya pun segera teringat kepada
do’a safar di atas … sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perubahan yang buruk dalam harta dan keluarga. Jika
kita hayati dan renungkan do’a tersebut rasanya tidak berlebihan jika
saya mengulangi lagi ungkapan saya di awal tulisan ini, sebuah do’a yang
menghimpun segala kebaikan yang kita butuhkan dan segala keburukan yang
ingin kita hindari berkaitan dengan safar yang kita lakukan. Do’a yang
mencakup apa-apa yang mungkin tidak terpikirkan untuk kita mohonkan
seandainya kita menyusun do’a sendiri. Memang sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Berikut sedikit penjelasan Majdi bin Abdul Wahhab Ahmad saat
mensyarah kumpulan do’a Hishnul Muslim karya DR Sa’id bin Ali Wahf
al-Qahthani tentang do’a safar tersebut.
Ungkapan أَنْتَ الصَّاحِبُ Engkau teman,
dengan kata lain teman yang selalu dekat. Yang dimaksud adalah
dampingan Allah Ta’ala kepadanya dengan segala perhatian dan penjagaan.
Yang demikian itu karena manusia adalah makhluk yang harus banyak
didampingi dalam perjalanan. Pendampingan itu dibutuhkan agar selalu
merasa tenang, selalu berhati-hati, terjaga dari apa-apa yang
membahayakannya sehingga diingatkan dengan kata itu sebagai tempat
bersandar yang paling baik dan penjagaan yang paling sempurna daripada
sahabat yang mana pun juga.
Ungkapan الْخَلِيْفَة pengganti
dengan kata lain, yang menggantikan orang yang pergi untuk mengamankan
segala apa yang diwakilkan kepadanya. Artinya, Engkaulah yang
kuharapkan, bersandar kepada-Nya ketika aku tiada di tengah keluargaku,
hendaknya Engkau merapikan kekacauan yang ada pada mereka, mengobati
penyakit mereka dan menjaga agama dan amanat mereka.
Ungkapan مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ dari kesulitan dalam perjalanan dengan kata lain, kerumitannya. Diambil dari akar kata الوعث yaitu suatu tempat yang datar, banyak tanah berpasir yang melelahkan dan menyulitkan binatang ternak.
Ungkapan وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ adalah pemandangan yang menyedihkan. الكابة و الكابة و الكاب
adalah penampilan yang buruk, putus asa karena sedih. Sedangkan yang
dimaksud adalah memohon perlindungan dari segala pemandangan yang
menimbulkan rasa sedih.
Ungkapan وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ keburukan ketika kembali,
yaitu kembali dengan sesuatu yang buruk baginya. Kembali dengan sesuatu
yang menimpa dirinya dalam perjalanan, atau apa-apa yang menimpa diri,
kerabat, harta dan apa-apa yang menjadi kesenangannya. Al-munqalab
adalah tempat kembali.
Ungkapan وَإِذَا رَجَعَ dan ketika pulang, yaitu dari perjalanannya.
Ungkapan قَالَهُنَّ semua itu dibaca dengan kata lain, mengucapkan semua kalimat itu, وَزَادَ فِيْهِنَّ dengan tambahan: kami semua kembali, yaitu kembali dengan baik. Dari kata اب artinya kembali dengan kata lain, kami kembali, dan تَائِبُوْنَ kami semua bertaubat dari segala macam dosa. Serta عَابِدُوْنَ kami semua beribadah dengan kata lain, kami mukhlis لِرَبِّنَا kepada Rabb kami, dan karenanya kami حَامِدُوْنَ kami memuji atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kami.
Selamatkan Diri dari Adzab Allah Dengan Bersyukur
Tidak perlu diragukan lagi akan keutamaan syukur dan ketinggian
derajatnya, yakni syukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang datang
terus beruntun dan tiada habis-habisnya. Di dalam Al-Qur’an Allah
menyuruh bersyukur dan melarang kebalikannya. Allah memuji orang-orang
yang mau bersyukur dan menyebut mereka sebagai makhluk-makhluk-Nya yang
istimewa. Allah menjadikan syukur sebagai tujuan penciptaan-Nya, dan
menjanjikan orang-orang yang mau melakukannya dengan balasan yang sangat
baik. Allah menjadikan syukur sebagai sebab untuk menambahkan karunia
dan pemberian-Nya, dan sebagai sesuatu yang memelihara nikmat-Nya. Allah
memberitahukan bahwa orang-orang yang mau bersyukur adalah orang-orang
yang dapat memanfaatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Allah memerintahkan untuk bersyukur pada beberapa ayat Al-Qur’an. Allah berfirman:
وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“… dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (An-NahI: 114)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
“Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152)
فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“… maka mintalah rizki itu di sisi Allaih dan sembahlah Dia dan
bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.“ (Al-Ankabut: 17)
Allah menggantungkan tambahan nikmat dengan syukur. Dan tambahan
nikmat dari-Nya itu tiada batasnya, sebagaimana syukur kepada-Nya. Allah
berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya
jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Dengan bersyukur akan selalu ada tambahan nikmat. Ada peribahasa
mengatakan, ‘Jika kamu tidak melihat keadaanmu bertambah, maka
bersyukurlah.’
Allah mengabarkan bahwa yang menyembah Diri-Nya hanyalah orang yang
bersyukur pada-Nya. Dan siapa yang tidak mau bersyukur kepada-Nya
berarti ia bukan termasuk orang-orang yang mengabdi-Nya. Allah
berfirman:
وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“… dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar hanya kepada Allah saja kamu menyembah.” (Al-Baqarah: 172)
Allah mengabarkan keridhaan-Nya terletak pada mensyukuri-Nya. Allah berfirman:
وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“… dan jika kamu bersyukur niscaya Allah meridhai bagimu kesyukuranmu itu …” (Az-Zumar: 7)
Allah mengabarkan bahwa musuh-Nya iblis selalu berusaha menggoda
manusia agar tidak bersyukur, karena ia tahu kedudukan syukur yang
sangat tinggi dan nilainya yang sangat agung, seperti yang terungkap
dalam firman-Nya:
ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ
وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ
أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“… kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari
belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan
mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raaf: 17)
Allah membarengkan syukur dengan iman dan memberitahukan bahwa Dia
tidak punya keinginan sama sekali untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang
mau bersyukur dan beriman kepada-Nya. Allah berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.“
(An-Nisaa: 147) Artinya, kalau kalian mau bersyukur dan beriman yang
menjadi tujuan kalian diciptakan, maka buat apa Allah menyiksa kalian?
Lantas Bagaimanakah kita Bersyukur?
Asal dan hakikat syukur ialah mengakui nikmat yang memberinya dengan
cara tunduk, patuh dan cinta kepadanya. Orang yang tidak mengenal bahkan
tidak mengetahui suatu nikmat ia jelas tidak bisa mensyukurinya.
Demikian juga dengan orang yang mengenal nikmat tetapi tidak mengenal
yang memberinya, ia tidak mensyukurinya. Orang yang mengenal nikmat
berikut yang memberikannya tetapi ia mengingkarinya berarti ia
mengkufurinya. Orang yang mengenal nikmat berikut yang memberikannya,
mau mengakui dan juga tidak mengingkarinya, tetapi ia tidak mau tunduk,
mencintai dan meridhai, berarti ia tidak mau mensyukurinya. Dan orang
yang mengenal nikmat berikut yang memberinya lalu ia mau tunduk,
mencintai dan meridhai serta menggunakan nikmat untuk melakukan
keta’atan kepadanya, maka ia adalah orang yang mensyukurinya.
Dengan demikian jelas bahwa syukur itu harus berdasarkan lima
landasan, yakni kepatuhan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri,
kecintaan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri, pengakuan orang
yang bersyukur atas nikmat yang disyukuri, sanjungan orang yang
bersyukur kepada yang disyukuri atas nikmatnya dan tidak menggunakan
nikmat itu untuk hal-hal yang tidak disukai oleh yang disyukuri. Kelima
hal itulah yang menjadi asas dan landasan syukur. Satu saja di antaranya
tidak ada maka salah satu kaidah syukur menjadi rusak.
Akibat Tersebarnya Berita Kejahatan dan Kemungkaran
Bagi penikmat media-media berita baik itu koran maupun televisi
niscaya akan sering mendengar dan membaca berbagai berita tentang
perbuatan kriminal dan mungkar. Entah itu berita korupsi, perzinaan,
perselingkuhan, pencurian, pembunuhan, penyiksaan, kerusakan akhlak dan
lain sebagainya. Memang berita-berita tersebut sudah menjadi konsumsi
yang digemari banyak orang dan sumber pemasukan untuk menyedot banyak
pembaca bagi media-media tersebut. Sebagian mungkin beranggapan bahwa
itu perlu diketahui dalam rangka kontrol sosial, mengetahui waqi’
(realitas umat) dan sebagai bahan untuk mengkritik pemerintah. Namun
pada kenyataannya yang banyak terjadi hanyalah sekedar konsumsi mata dan
hati tatkala beristirahat selepas kerja, untuk refreshing dan dianggap
‘hiburan’ oleh kebanyakan orang yang tidak memiliki kemampuan atau
kekuasaan apa-apa untuk merubahnya. Jangan-jangan dalam hatinya pun
tidak terbersit rasa benci sama sekali.
Seorang ulama, Syaikh Musthafa al-Adawy, menjelaskan secara ringkas
tentang hal yang berkaitan dengan memperdengarkan berita-berita buruk
ini. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًاعَلِيمًا
“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terang
kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (an-Nisa: 148)
Yang demikian itu karena kata-kata buruk akan membantu tersebarnya kejahatan dan kemaksiatan.
Contoh sederhana saja, jika anda mendengar beberapa orang bercerita
bahwa si fulan melakukan zina, anda pasti tidak senang dan anda akan
membenci si fulan yang berzina. Setelah beberapa hari anda mendengar
kabar bahwa fulan yang lain berzina dengan mahramnya, maka rasa benci
anda kepada pelaku zina yang pertama akan berkurang dan kebencian itu
akan terarah kepada pelaku zina dengan mahramnya. Bebeapa hari kemudian
anda mendengar masyarakat bercerita bahwa fulan yang lain lagi melakukan
zina di tempat umum dan terbuka, di pinggir jalan. Mendengar kabar itu
pasti anda akan lupa dari pelaku zina dengan mahramnya dan kebencian
anda akan terarah kepada pelaku zina di tempat umum. Jadi begitulah,
kemungkaran akan menjadi hal biasa jika banyak dibicarakan.
Jika ada di sebuah kampung di mana tidak ada satu pun dari
penduduknya yang meminum minuman keras, kemudian pada suatu ketika
terdengar kabar bahwa salah satu penduduknya meminum minuman keras, maka
semua penduduk akan membenci peminum itu. Namun jika mereka pergi ke
kota dan melihat minuman keras dijual di pinggir-pinggir jalan dan
begitu sering dibicarakan, maka perbuatan itu lambat laun akan dianggap
sebagai perbuatan biasa. Oleh karenanya mengucapkan kata-kata buruk
tidak diperkenankan.
Alloh berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ
الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang
amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka
azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)
Dan sudah dipaparkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
فليقل خيرا او ليصمت
“… maka ucapkanlah kata-kata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ini akan mencegah tersebarnya keburukan.
Demikian penjelasan Syaikh Musthafa al-Adawy.
Apabila kita bisa menjaga diri dari menyebarkan berita-berita buruk,
maka selanjutnya seperti halnya kita menjaga kesehatan tubuh dengan
menghindari mengkonsumsi makan-makanan yang buruk yang bisa merusak
kesehatan, maka terlebih lagi jika itu adalah makanan hati. Bacaan dan
ilmu ibarat makanan bagi hati dan akal. Permasalahan ini cakupannya
tentu akan lebih luas lagi, tidak hanya sekedar masalah bacaan atau
tontonan di media massa.
Ternyata mati rasa tidak hanya terjadi pada kulit, tetapi bisa juga terjadi pada hati. Wallohu a’lam wa nas’alulloha al’afiyah.
Nabi Nuh Berada Dalam Puncak Kesabaran
Sabar adalah satu kata yang sering kita ucapkan dan kita dengar,
namun tidak mudah untuk kita amalkan dengan sempurna. Memang sabar telah
diperintahkan dalam al-Qur’an maupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa
salam dan kenyataan ujian yang selalu dialami manusia dalam
kehidupannya di dunia menjadikan sabar (seharusnya) bagian dari
kehidupan kita sehari-hari. Barangkali kita sering mendengar orang
berkata, “… tapi sabar khan ada batasnya!” atau “… apa kita harus
bersabar terus…?” dan sebagainya. Musibah atau ujian yang demikian
bertubi-tubi terkadang menjadi pembenaran atas ucapan tersebut. Namun
bagaimanakah sabar yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul?
Allah mengabadikannya dalam al-Qur’an:
Seorang da’i terkadang diberikan ujian dan cobaan dengan sikap kaum dan teman-temannya, akan tetapi ketika dia kembali kepada keluarganya, maka ia mendapatkan ketenangan dan penyejuk hati. Adapun Nuh, beliau dicoba dengan sikap kaumnya dan keluarganya sekaligus. Allah berfirman:
1. Sabar dalam menahan jiwa dalam ketaatan dan senantiasa menjaganya, memupuknya dengan keikhlasan dan menghiasinya dengan keilmuan. Di sini tetap berlaku seperti halnya ibadah yang lain, yaitu perlunya keikhlasan karena Allah dan perlunya ilmu agar kesabaran kita benar adanya.
2. Sabar dengan menahan diri dari segala kemaksiatan dan berdiri tegak melawan hawa nafsu.
3. Ridha dengan qadha dan qadar Allah tanpa mengeluh. Adapun mengeluh berupa mengadukan kepada Allah maka tidak mengapa, seperti ucapan Nabi Ya’qub ‘alahis salam,
Kesabaran Nabi Nuh ‘alaihis salam
Nabi Nuh ‘alaihis salam berdakwah mengajak umatnya ke jalan Allah selama 995 tahun secara rahasia dan terang-terangan, malam dan siang hari, memberikan kabar gembira juga ancaman, akan tetapi beliau hanya mendapatkan pembangkangan dari mereka, bahkan pelecehan dan ejekan. Kendati demikian Nabi Nuh tetap berdakwah dalam waktu tersebut tanpa kesal dan bosan. Setiap kali umatnya menentang, maka beliau merubah caranya dalam berdakwah. Bagaimanapun keadaannya, beliau amat belas kasihan kepada umatnya dan takut jika mereka tertimpa adzab Allah yang sangat pedih. Beliau sangat penyantun dan lapang dadanya dan sungguh telah menjadi teladan dalam kesungguhan dan telah berada dalam puncak kesabaran.Allah mengabadikannya dalam al-Qur’an:
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي
لَيْلا وَنَهَارًافَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلا فِرَارًاوَإِنِّي
كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي
آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا
اسْتِكْبَارًاثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًاثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ
لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا
“Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya
aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah
menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku
menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka
memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya
(ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri
dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada
iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru)
mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” (Nuh: 5-9)
Kesabaran Nuh bukan hanya dalam menghadapi kaumnya, juga kala
menghadapi keluarganya. Inilah fitnah dan cobaan yang hanya dihadapi
oleh orang-orang yang bersabar.Seorang da’i terkadang diberikan ujian dan cobaan dengan sikap kaum dan teman-temannya, akan tetapi ketika dia kembali kepada keluarganya, maka ia mendapatkan ketenangan dan penyejuk hati. Adapun Nuh, beliau dicoba dengan sikap kaumnya dan keluarganya sekaligus. Allah berfirman:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ
كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ
مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا
مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ
“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth
perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan
dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri
itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada
dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan
(kepada keduanya); Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk
(neraka).” (at-Tahrim: 10)
Bukan hanya isterinya yang menjadi musibah
dalam keluarga Nuh, akan tetapi anaknya pun menolak Islam dan membantah
ayahnya sehingga masuk ke dalam golongan kafir. Nuh berusaha keras
menyelamatkan anaknya, akan tetapi harapan tinggal harapan, Allah
berfirman:
وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ
كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ
ارْكَبْ مَعَنَا وَلا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ
يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ
اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ
الْمُغْرَقِينَ
“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka
dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak
itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke
kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang
kafir. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang
dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang
melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha
Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka
jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Huud: 42-43)
Nuh telah dicoba dan bersabar, ia berdo’a kepada Allah dan
mendapatkan kemenangan, Allah pun memberikan kebaikan sebagai ganti atas
apa yang diambil darinya. Allah menggantinya dengan memberikan anak
cucu yang melanjutkan keturunan.
وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ
“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (ash-Shaffat: 77)
Serba-Serbi Sabar
Sabar yang banyak diperintahkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah ini meliputi 3 keadaan:1. Sabar dalam menahan jiwa dalam ketaatan dan senantiasa menjaganya, memupuknya dengan keikhlasan dan menghiasinya dengan keilmuan. Di sini tetap berlaku seperti halnya ibadah yang lain, yaitu perlunya keikhlasan karena Allah dan perlunya ilmu agar kesabaran kita benar adanya.
2. Sabar dengan menahan diri dari segala kemaksiatan dan berdiri tegak melawan hawa nafsu.
3. Ridha dengan qadha dan qadar Allah tanpa mengeluh. Adapun mengeluh berupa mengadukan kepada Allah maka tidak mengapa, seperti ucapan Nabi Ya’qub ‘alahis salam,
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ
“Yakub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah
kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku
mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf: 86)
atau Nabi Ayyub ‘alahis salam,
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia
menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit
dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (al-Anbiyaa’: 83)
Dengan sabar maka akan diketahui siapakah
yang berada dalam barisan kaum mukminin dan membersihkan mereka dari
orang-orang yang bisa melemahkan barisan mereka. Kita ingat kisah
kemenangan pasukan Thalut melawan Jalut,
“Maka tatkala Thalut keluar membawa
tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan
suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia
pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk
tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali
beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang
yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang
telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk
melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka
akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit
dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah
beserta orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 249)
Beberapa medan kesabaran adalah sabar dalam
menghadapi bencana dunia, dalam menghadapi hawa nafsu, dalam
melaksanakan ketaatan kepada Allah, dalam berdakwah, dalam kesempitan,
dalam menghadapi anak-anak & isteri, dalam menghadapi saudara
seagama dan sabar dalam menuntut ilmu.
Sabar mencakup segenap akhlak islami. Sifat ‘iffah (menjaga kehormatan) adalah sabar dalam menahan syahwat perut dan kemaluan. Syaja’ah (keberanian) adalah bersabar di medan tempur. Al-hilm
(santun) adalah bersabar dalam menghadapi sikap membalas ketika marah.
Lapang dada adalah bersabar dalam menghadapi rasa kesal. Qana’ah adalah bersabar dengan merasa cukup dengan yang ada. Kitman (menjaga rahasia) adalah bersabar dalam menyembunyikan satu urusan. Zuhud adalah bersabar dengan meninggalkan kelebihan dalam hidup.
Demikianlah bahwa pohon akhlak Islam itu
digiring oleh sabar, karena itulah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa salam ditanya tentang iman, beliau menjawab, “Toleransi dan
kesabaran.” (Hadits hasan dikeluarkan oleh al-Hakim III/626, Abu Nu’aim
dalam al-Hilyah III/357 dan Syaikh Salim bin Ied al-Hilali menghasankan
hadits ini)
Sabar memiliki beberapa syarat:
1. Ikhlas
2. Tidak mengeluh
3. Sabar pada waktunya terjadi musibah dan inilah sabar yang terpuji lagi berpahala.
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam melewati seorang wanita yang sedang
menangis di sisi sebuah kuburan. Beliaupun berkata: “Bertakwalah kepada
Allah dan bersabarlah.” Wanita itu menjawab dalam keadaan ia belum
mengenali siapa yang menasehatinya: “Biarkan aku karena engkau tidak
ditimpa musibah seperti musibahku” Selanjutnya dikabarkan
kepadanya, “Yang menasehatimu adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.”
Wanita itu (terkejut) bergegas mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa
salam dan tidak didapatkannya penjaga pintu di sisi Nabi shallallahu
‘alaihi wa salam lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah aku tadi tidak
mengenalimu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Hanyalah
kesabaran itu pada goncangan yang pertama.” (HR. al-Bukhari III/148,
al-Fath dan Muslim VI/277-288 an-Nawawi)
Semoga Allah selalu menolong kita untuk bisa bersabar dalam setiap keadaan.
Larangan Menyerupai Yahudi dan Nasrani dalam Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Ibadah
Sebagaimana kita ketahui, Islam adalah agama tauhid yang menegakan
peribadahan hanya kepada Allah semata. Dakwah tauhid ini diserukan tidak
hanya oleh Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, tapi juga
oleh seluruh Nabi dan Rasul. Dalam sebuah surat dalam al-Qur’an, yaitu
Surat al-A’raf, Allah menyebut kisah beberapa Rasul yang mendakwahkan
tauhid:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (QS al-A’raf: 59)
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS al-A’raf: 65)
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS al-A’raf: 73)
“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS al-A’raf: 85)
Maka tidaklah mengherankan jika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sangat memperhatikan masalah tauhid ini. Beliau berdakwah menitikberatkan pada masalah tauhid selama 13 tahun di Mekah. Berbagai hal yang bertentangan dengan tauhid pun telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Di antara perbuatan yang bisa menghilangkan atau mengurangi tauhid adalah mengaku mengetahui ilmu ghaib, sihir dan perdukunan, mengagungkan berhala atau patung-patung, berkurban untuk selain Allah, mengolok-olok agama, bertawasul kepada selain Allah atau bersumpah dengan selain nama Allah.
Di antara hal yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam terhadap umatnya adalah beribadah di kuburan atau menjadikan kubur sebagai tempat ibadah. Beberapa hadits yang menyebutkan pelarangan ini adalah sebagai berikut:
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia bercerita, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda ketika beliau sakit dan dalam keadaan berbaring,
‘Aisyah berkata, “Kalau bukan karena (laknat) itu, niscaya kuburan beliau akan ditempatkan di tempat terbuka, hanya saja beliau takut kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid.” [1]
Dalam hadits lain, dari ‘Aisyah dan Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menghadapi sakaratul maut, maka beliau menempelkan ujung baju beliau ke wajah beliau sendiri. Dan ketika ujung baju itu telah menutupi wajahnya, maka beliau membukanya kembali seraya bersabda, “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan makam Nabi-Nabi mereka sebagai masjid.” ‘Aisyah mengatakan, “Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.” [2]
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (QS al-A’raf: 59)
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS al-A’raf: 65)
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS al-A’raf: 73)
“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS al-A’raf: 85)
Maka tidaklah mengherankan jika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sangat memperhatikan masalah tauhid ini. Beliau berdakwah menitikberatkan pada masalah tauhid selama 13 tahun di Mekah. Berbagai hal yang bertentangan dengan tauhid pun telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Di antara perbuatan yang bisa menghilangkan atau mengurangi tauhid adalah mengaku mengetahui ilmu ghaib, sihir dan perdukunan, mengagungkan berhala atau patung-patung, berkurban untuk selain Allah, mengolok-olok agama, bertawasul kepada selain Allah atau bersumpah dengan selain nama Allah.
Di antara hal yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam terhadap umatnya adalah beribadah di kuburan atau menjadikan kubur sebagai tempat ibadah. Beberapa hadits yang menyebutkan pelarangan ini adalah sebagai berikut:
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia bercerita, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda ketika beliau sakit dan dalam keadaan berbaring,
لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan
Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat
ibadah (masjid).”‘Aisyah berkata, “Kalau bukan karena (laknat) itu, niscaya kuburan beliau akan ditempatkan di tempat terbuka, hanya saja beliau takut kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid.” [1]
Dalam hadits lain, dari ‘Aisyah dan Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menghadapi sakaratul maut, maka beliau menempelkan ujung baju beliau ke wajah beliau sendiri. Dan ketika ujung baju itu telah menutupi wajahnya, maka beliau membukanya kembali seraya bersabda, “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan makam Nabi-Nabi mereka sebagai masjid.” ‘Aisyah mengatakan, “Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.” [2]
Kecerdasan Iyas bin Mu’awiyah al-Muzanni
Nama beliau adalah Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah al-Muzanni lahir
pada tahun 46 H di daerah Yamamah Nejed. Beliau termasuk generasi
tabi’in yaitu generasi yang bertemu dengan sahabat Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa salam namun tidak sempat bertemu dengan Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa salam.
Telah nampak bakat dan kecerdasan putera al-Muzanni yang satu ini sejak kecil. Orang-orang sering membicarakan kehebatan dan beritanya kendati beliau masih kanak-kanak.
Telah diriwayatkan bahwa ketika masih kecil beliau belajar ilmu hisab di sebuah sekolah yang diajar oleh Yahudi ahli dzimmah (tunduk dan berada di bawah jaminan penguasa Islam, tidak masuk Islam namun membayar pajak). Pada suatu hari berkumpullah kawan-kawannya dari kalangan Yahudi itu, lalu mereka asyik membicarakan masalah agama mereka tanpa menyadari bahwa Iyas turut mendengarkannya.
Guru Yahudi itu berkata kepada teman-teman Iyas, “Tidakkah kalian heran dengan kaum muslimin itu? Mereka berkata bahwa mereka akan makan di surga, namun tidak akan buang air besar?”
Iyas menoleh kepadanya lalu berkata,
Iyas : “Bolehkah aku ikut campur dalam perkara yang kalian perbincangkan itu wahai guru?”
Guru : “Silakan!”
Iyas : “Apakah semua yang dimakan di dunia ini keluar menjadi kotoran?”
Guru : “Tidak!”
Iyas : “Lantas kemana perginya yang tidak keluar itu?”
Guru : “Tersalurkan sebagai makanan jasmani.”
Iyas : “Lantas dengan alasan apa kalian mengingkari? Jika makanan yang kita makan di dunia saja sebagian hilang diserap oleh tubuh, maka tak mustahil di surga seluruhnya diserap tubuh dan menjadi makanan jasmani.”
Merasa kalah argumen, guru itu memberikan isyarat dengan tangannya sambil berkata kepada Iyas, “Semoga Allah mematikanmu sebelum dewasa.”
Dalam kisah lain, pernah ada duhqan (seperti jabatan lurah di kalangan Persi dahulu) yang datang ke majelisnya Iyas dan bertanya,
Duhqan : “Wahai Abu Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan?”
Iyas : “Haram!”
Duhqan : Dari sisi mana dikatakan haram, sedangkan ia tak lebih dari buah dan air yang diolah, sedangkan keduanya sama-sama halal?”
Iyas : “Apakah engkau sudah selesai bicara wahai Duhqan, ataukah masih ada yang hendak kau utarakan?”
Duhqan : “Sudah, silakan bicara!”
Iyas : “Seandainya kuambil air dan kusiramkan ke mukamu, apakah engkau merasa sakit?”
Duhqan : “Tidak.”
Iyas : “Jika kuambil segenggam pasir dan kulemparkan kepadamu, apakah terasa sakit?”
Duhqan : “Tidak.”
Iyas : “Jika aku mengambil segenggam semen dan kulemparkan kepadamu, apakah terasa sakit?”
Duhqan : “Tidak.”
Iyas : “Sekarang, jika kuambil pasir lalu kucampur dengan segenggam semen, lalu kutuangkan air di atasnya dan kuaduk, lalu kujemur hingga kering, lalu kupukulkan ke kepalamu, apakah engkau merasa sakit?”
Duhqan : “Benar, bahkan bisa membunuhku.”
Iyas : “Begitulah halnya dengan khamr. Di saat kau kumpulkan bagian-bagiannya lalu kau olah menjadi minuman yang memabukkan, maka dia menjadi haram.”
Adi bin Arthas mempertemukan antara Iyas dan al-Qasim lalu berkata, “Amirul mukminin – semoga Allah memanjangkan umurnya – memintaku untuk mengangkat salah satu dari kalian sebagai kepala pengadilan Bashrah. Bagaimana pendapat kalian berdua?”
Masing-masing mengatakan bahwa rekannyalah yang lebih utama sambil menyebutkan keutamaan, ilmu dan kefakihannya.
Adi berkata, “Kalian tidak boleh keluar dari sini sebelum kalian memutuskannya.”
Iyas berkata, “Wahai Amir, anda bisa menanyakan tentang diriku dan al-Qasim kepada dua fuqaha Irak ternama yaitu Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin, karena keduanyalah yang paling mampu membedakan antara kami berdua.”
Iyas mengatakan seperti itu karena al-Qasim adalah murid dari kedua ulama tersebut, sedangkan Iyas sendiri tidak punya hubungan apapun dengan mereka. Al-Qasim menyadari bahwa Iyas akan memojokkannya, sebab kalau pemimpin Irak itu bermusyawarah dengan kedua ulama itu, tentulah mereka akan memilih dia dan bukan Iyas. Maka dia segera menoleh kepada Adi dan berkata, “Wahai Amir, janganlah anda menanyakan perihalku kepada siapapun. Demi Allah yang tiada ilah selain Dia, Iyas lebih mengerti tentang agama Allah daripada aku dan lebih mampu untuk menjadi hakim. Bila aku bohong dalam sumpahku ini, maka tidak patut anda memilihku karena itu berarti memberikan jabatan kepada orang yang ada cacatnya. Bila aku jujur, anda tidak boleh mengutamakan orang yang lebih rendah, sedangkan di sini ada yang lebih utama.”
Iyas berpaling kepada amir dan berkata, “Wahai Amir, anda memanggil orang untuk menjadi hakim. Ibaratnya anda letakkan ia di tepi jahanam, lalu orang itu (al-Qasim) hendak menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsu yang dia bisa meminta ampun kepada Allah dengan beristighfar kepada-Nya dan selamatlah ia dari apa yang ditakutinya.”
Maka Adi berkata kepada Iyas, “Orang yang berpandangan seperti dirimu inilah yang layak menjadi hakim.”
Lalu diangkatlah Iyas sebagai qadhi di Bashrah.
Telah nampak bakat dan kecerdasan putera al-Muzanni yang satu ini sejak kecil. Orang-orang sering membicarakan kehebatan dan beritanya kendati beliau masih kanak-kanak.
Telah diriwayatkan bahwa ketika masih kecil beliau belajar ilmu hisab di sebuah sekolah yang diajar oleh Yahudi ahli dzimmah (tunduk dan berada di bawah jaminan penguasa Islam, tidak masuk Islam namun membayar pajak). Pada suatu hari berkumpullah kawan-kawannya dari kalangan Yahudi itu, lalu mereka asyik membicarakan masalah agama mereka tanpa menyadari bahwa Iyas turut mendengarkannya.
Guru Yahudi itu berkata kepada teman-teman Iyas, “Tidakkah kalian heran dengan kaum muslimin itu? Mereka berkata bahwa mereka akan makan di surga, namun tidak akan buang air besar?”
Iyas menoleh kepadanya lalu berkata,
Iyas : “Bolehkah aku ikut campur dalam perkara yang kalian perbincangkan itu wahai guru?”
Guru : “Silakan!”
Iyas : “Apakah semua yang dimakan di dunia ini keluar menjadi kotoran?”
Guru : “Tidak!”
Iyas : “Lantas kemana perginya yang tidak keluar itu?”
Guru : “Tersalurkan sebagai makanan jasmani.”
Iyas : “Lantas dengan alasan apa kalian mengingkari? Jika makanan yang kita makan di dunia saja sebagian hilang diserap oleh tubuh, maka tak mustahil di surga seluruhnya diserap tubuh dan menjadi makanan jasmani.”
Merasa kalah argumen, guru itu memberikan isyarat dengan tangannya sambil berkata kepada Iyas, “Semoga Allah mematikanmu sebelum dewasa.”
Dalam kisah lain, pernah ada duhqan (seperti jabatan lurah di kalangan Persi dahulu) yang datang ke majelisnya Iyas dan bertanya,
Duhqan : “Wahai Abu Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan?”
Iyas : “Haram!”
Duhqan : Dari sisi mana dikatakan haram, sedangkan ia tak lebih dari buah dan air yang diolah, sedangkan keduanya sama-sama halal?”
Iyas : “Apakah engkau sudah selesai bicara wahai Duhqan, ataukah masih ada yang hendak kau utarakan?”
Duhqan : “Sudah, silakan bicara!”
Iyas : “Seandainya kuambil air dan kusiramkan ke mukamu, apakah engkau merasa sakit?”
Duhqan : “Tidak.”
Iyas : “Jika kuambil segenggam pasir dan kulemparkan kepadamu, apakah terasa sakit?”
Duhqan : “Tidak.”
Iyas : “Jika aku mengambil segenggam semen dan kulemparkan kepadamu, apakah terasa sakit?”
Duhqan : “Tidak.”
Iyas : “Sekarang, jika kuambil pasir lalu kucampur dengan segenggam semen, lalu kutuangkan air di atasnya dan kuaduk, lalu kujemur hingga kering, lalu kupukulkan ke kepalamu, apakah engkau merasa sakit?”
Duhqan : “Benar, bahkan bisa membunuhku.”
Iyas : “Begitulah halnya dengan khamr. Di saat kau kumpulkan bagian-bagiannya lalu kau olah menjadi minuman yang memabukkan, maka dia menjadi haram.”
Terpilih Menjadi Qadhi
Karena keutamaan yang beliau miliki, beliau pernah dipercaya menjadi qadhi di Bashrah pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Abdul Aziz awalnya memiliki dua pilihan calon yaitu Iyas dan al-Qasim bin Rabi’ah al-Haritsi yang kedua-duanya bak kuda balap kembar dalam ilm fiqih, tegas dan kukuh dalam kebenaran, cemerlang pemikiran-pemikirannya dan tepat dalam pandangannya. Masing-masing memiliki keunggulan tersendiri. Lantas beliau mengutus walinya di Irak yang bernama Adi bin Arthah untuk memilih di antara keduanya.Adi bin Arthas mempertemukan antara Iyas dan al-Qasim lalu berkata, “Amirul mukminin – semoga Allah memanjangkan umurnya – memintaku untuk mengangkat salah satu dari kalian sebagai kepala pengadilan Bashrah. Bagaimana pendapat kalian berdua?”
Masing-masing mengatakan bahwa rekannyalah yang lebih utama sambil menyebutkan keutamaan, ilmu dan kefakihannya.
Adi berkata, “Kalian tidak boleh keluar dari sini sebelum kalian memutuskannya.”
Iyas berkata, “Wahai Amir, anda bisa menanyakan tentang diriku dan al-Qasim kepada dua fuqaha Irak ternama yaitu Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin, karena keduanyalah yang paling mampu membedakan antara kami berdua.”
Iyas mengatakan seperti itu karena al-Qasim adalah murid dari kedua ulama tersebut, sedangkan Iyas sendiri tidak punya hubungan apapun dengan mereka. Al-Qasim menyadari bahwa Iyas akan memojokkannya, sebab kalau pemimpin Irak itu bermusyawarah dengan kedua ulama itu, tentulah mereka akan memilih dia dan bukan Iyas. Maka dia segera menoleh kepada Adi dan berkata, “Wahai Amir, janganlah anda menanyakan perihalku kepada siapapun. Demi Allah yang tiada ilah selain Dia, Iyas lebih mengerti tentang agama Allah daripada aku dan lebih mampu untuk menjadi hakim. Bila aku bohong dalam sumpahku ini, maka tidak patut anda memilihku karena itu berarti memberikan jabatan kepada orang yang ada cacatnya. Bila aku jujur, anda tidak boleh mengutamakan orang yang lebih rendah, sedangkan di sini ada yang lebih utama.”
Iyas berpaling kepada amir dan berkata, “Wahai Amir, anda memanggil orang untuk menjadi hakim. Ibaratnya anda letakkan ia di tepi jahanam, lalu orang itu (al-Qasim) hendak menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsu yang dia bisa meminta ampun kepada Allah dengan beristighfar kepada-Nya dan selamatlah ia dari apa yang ditakutinya.”
Maka Adi berkata kepada Iyas, “Orang yang berpandangan seperti dirimu inilah yang layak menjadi hakim.”
Lalu diangkatlah Iyas sebagai qadhi di Bashrah.
Langganan:
Postingan (Atom)



































